Home / Featured / Pertentangan antara Liberalisme Ekonomi dan Liberalisme Politik

Pertentangan antara Liberalisme Ekonomi dan Liberalisme Politik

Pada awalnya, dua bentuk liberalisme ini memiliki hubungan “kekeluargaan” yang dekat, namun perlahan-perlahan menjadi dua kutub yang berlawanan. Dan perubahan tersebut mempunyai dua faktor mendasar, yaitu:

  1. Perdagangan dan perniagaan yang perlahan-lahan muncul dalam bentuk lembaga-lembaga besar. Di mana orang-orang tidak mampu dalam perdagangan bebas dan penguatan ekonomi berhadapan melawan dan mengawasi lembaga-lembaga tersebut, pada akhirnya liberalisme ekonomi melepaskan makna awalnya dan muncul dengan bentuk kebebasan serikat  serta yayasan-yayasan besar ekonomi, di mana serikat dan yayasan-yayasan tersebut melakukan apa saja yang mereka inginkan –baik menguntungkan diri mereka ataupun merugikan konsumen-. Fenomena ini seiring dengan perbudakan manusia juga membelenggu kebebasan politik mereka. Dengan demikian, maka tampak jelas kontradiksi antara liberalisme politik dengan liberalisme ekonomi.
  2. Pada mulanya, liberalisme muncul dalam bentuk pertikaian dan perebutan antara kapitalisme perdagangan dan industri dengan para tuan tanah dan ladang, artinya pertikaian antara pemodal dan tuan tanah. Pada kenyataannya adalah sebuah pertikaian di tangan para pemodal perdagangan dan industri melawan posisi politis dan keistimewaan para tuan tanah, karena pada waktu itu negara di tangan para tuan tanah. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu tarik-menarik –persengketan— antara pemodal dan pekerja melemah, dan dengan pertumbuhan pabrik-pabrik industri, pertikaian ini telah menjadikan dieinya sebagai polemik antara para pemodal dengan pekerja. Fenomena tersebut sebab bagi kemunculan dua bentuk liberalisme: kelompok pertama adalah yang mempertahankan kondisi yang ada, kelompok kedua adalah yang condong pada satu bentuk sosialisme, di mana merupakan pendukung terhadap kepemilikan negara atas pabrik-pabrik dan menjadikannya sebagai milik negara.

Adalah jelas, dalam analisa ini pondasi dasar liberalisme politik yang adalah kebebasan berfikir, penjelasan (berbicara), pembahasan, kritisi dan protes telah gugur. Dari sinilah, sebagian berkeinginan untuk menemukan jalan tengah antara dua aliran tersebut, artinya pondasi dasar liberalisme tetap terjaga dan juga aktivitas-aktivitas ekonomi sampai batas tertentu tetap berada dalam kontrol negara, sehingga serikat-serikat dan yayasan-yayasan –perusahan— besar tidak bisa menjadikan hak-hak individu –yang merupakan dasar liberalisme politik—sebagai objek penyerangan mereka secara tidak langsung.[1]

Liberalisme Etika

Alhasil, liberalisme, khususnya dalam bentuk ekonominya tidak akan sejalan dan sesuai dengan dasar-dasar etika juga aturan-aturan serta hukum-hukum agama, karena kebebasan absolut tidak lain adalah sesuai dengan kebebasan politik ataupun ekonomi orang lain, dan tidak memiliki syarat dan atribut yang lainnya, tentunya bertentangan dengan nilai-nilai etika dan hukum-hukum agama yang mengharuskan satu kapling –kawasan— yang terbatas, atribut-atribut dan syarat-syarat bagi prilaku dan tindakan manusia. Dengan ungkapan lain, liberalisme ekonomi dan politik akan berakhir pada liberalisme etika, dan liberalisme etika bertentangan dengan agama serta etika. Dan ini menunjukkan bahwa liberalisme telah melapangkan lahan bagi sekulerisme, artinya dalam masyarakat liberalisme benih sekulerisme tumbuh berkembang dengan subur, karena sekulerisme menyuarakan anti dan penyingkiran agama dalam kancah sosial serta zona pengaturan masyarakat, dan liberalisme –khususnya dalam bentuk etikanya— merupakan puncak ketidakselarasan dengan perintah-perintah, larangan-larangan agama juga tolok-ukur khusus yang telah diletakkan oleh agama untuk tindakan dan prilaku manusia.

Pada hakikatnya, utilitarianisme ataupun filsafat kesejatian manfaat merupakan pondasi bangunan bagi liberalisme ekonomi bertentangan dan berseteru keras dengan hukum-hukum juga ajaran-ajaran agama yang menyelaraskan serta menekankan aturan dan ketentuan ekonomi dengan arahan etika. Max Weber[2], pada satu kesempatan menyebutkan tumpang-tindih (benturan) antara agama dengan prilaku-prilaku sosial, dalam hubungannya dengan benturan-benturan yang muncul dari aktivitas-aktivitas ekonomi menuliskan:

“pada fase sebelumnya, terdapat beberapa peranan yang timbul sehubungan dengan aktivitas-aktivitas ekonomi dan memiliki bentuk yang beragam. Keuntungan yang tidak sesuai dan riba dengan anjuran bersedekah –dan juga pinjaman tanpa keuntungan— berseberangan dengan tukar pinjam yang tidak menyenangkan Tuhan, contoh-contoh tersebut merupakan bentuk dari tumpang-tindih (benturan). Akan tetapi, yang terpenting dari kesemuanya adalah kontradiksi yang tersembunyi antara kaedah persahabatan dengan rasionalisasi ekonomi modern yang yang berpijak pada bank, pada hakikatnya ekonomi modern tidak lain hanyalah usaha memperoleh manfaat…”[3]

Fenomena-fenomena tersebut telah menjadikan dunia berhadapan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan, dengan kemajuan-kemajuan ilmu dan industri manusia telah membuang keyakinannya terhadap kekuatan-kekuatan ghaib. Manusia telah menghapus ingatannya terhadap makna wahyu, khususnya kesakralan. Satu realita yang menyedihkan, tawar dan telah diubah menjadi penganut –kesejatian— keuntungan. Di dalam jiwa manusia terdapat “ruang” yang kosong, di mana ia berusaha untuk memenuhinya dengan gejolak dan segala macam bentuk yang mengada-ada: lari ke dalam relativisme yang cacat dan tidak kokoh, kepada skeptisme yang pemalas. Manusia berusaha untuk memperindah jiwa mereka dengan berbagai bentuk yang terpisah-pisah, seperti pandangan (cara) agamis, penyembah keindahan, etika dan saintisme serta kesimpulan dari satu bentuk filsafat cuplikan yang menerima segala macam hikmah  dari seluruh penjuru dunia yang tidak pernah dipelajari…”[4]

Dengan demikian, filsafat liberalisme dalam bidang politik, ekonomi, budaya dan etika jelas berlawanan dengan seluruh keyakinan-keyakinan transendental manusia, ajaran-ajaran dan hukum-hukum sikap serta prilaku agamis. Alhasil, para penyokong dan pengikut filsafat ini (liberalisme) apa pun namanya –baik filosof, politikus, sosiolog, intelektual, tidak bisa berdekatan dan sejalan dengan agama, doktrin-doktrin serta ajaran-ajaran agamis –dalam bentuk originalnya—. Mereka mengingkari agama dari asasnya (materialisme dan marxisme), ataupun menyimpangkan agama dengan cara menafsirkan dan menakwilkannya sesuai pemikiran liberalisme, di mana salah satu caranya adalah sekulerisme dan penyingkiran agama dari zona sosial, dan menyerahkan penyusunan cara berprilaku, aturan-aturan dasar dan aksidental masyarakat kepada ilmu dan eksperimen manusia, artinya terpisah dari aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan agamis.

-Muhammad Hasan Qardan-

——————————————————————————————————

[1] Dr Bahâ`uddin Pâzârgâd, Târîkh-e Falsafeh-ye Siyâsî, jilid 2, hal. 850-852

[2] Max Weber adalah seorang sosiolog dan ekonom Jerman yang hidup pada tahun (1864-1930 M.)

[3] Zyolin Fround, Jâme’e-ye Syenâsî-ye  Max Weber, terjemahan Abdul Husain Nîk Guhr, hal. 192

[4] Zyolin Fround, Jâme’e-ye Syenâsî-ye  Max Weber, terjemahan Abdul Husain Nîk Guhr, hal. 30-31

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress database error You have an error in your SQL syntax; check the manual that corresponds to your MySQL server version for the right syntax to use near '%b, %b)' at line 1 for query INSERT INTO `wp_tsw_log` (`IP`, `Time`, `IS_BOT`, `IS_HIT`) VALUES ('54.225.57.89', 1511413840, %b, %b) made by require('wp-blog-header.php'), require_once('wp-includes/template-loader.php'), include('/themes/sahifa/single.php'), get_sidebar, locate_template, load_template, require_once('/themes/sahifa/sidebar.php'), dynamic_sidebar, call_user_func_array, widget_traffic_stats, view