Home / Featured / Pintu Gerbang Menuju Allah

Pintu Gerbang Menuju Allah

Menyelami lautan sufisme, terdapat dua mutiara berkilau yang sangat penting, yaitu al-Hal (ekstase spiritual) dan al-Maqam (tahapan spiritual). Semua uraian tentang jalan menuju Allah swt yang terdiri atas Empat Ranting yang telah kita bahas di dua tulisan sebelumnya, adalah al-Hal dan al-maqam.

Pintu Gerbang Menuju Allah SWT

Secara lebih rinci, al-Syaikh mulai menguraikan keduanya. Maqam adalah setiap sifat yang harus paten-kokoh (rusukh) hingga tidak sah berpindah dari sifat itu, misalnya taubat.

Seorang penempuh jalan menuju Allah swt harus paten dan kokoh taubatnya. Dia tidak boleh lepas dari taubat. Sekali bertaubat, pantang baginya mengulangi dosa itu lagi. Dia tidak jatuh di jurang yang sama. Jika terpeleset, dia cepat-cepat bertaubat kembali.

Taubat, menurut al-Gazali di dalam Ihya’, adalah satu langkah pertama bagi seorang yang ingin menuju Allah swt. Satu kilometer, dimulai dari satu langkah pertama. Tanpa pernah melangkah, tak kan pernah tahu apa rasanya menuju Allah swt itu. Sejauh apapun sebuah jarak, ia pasti dimulai dari satu langkah pertama.

Apalagi Allah swt, yang lebih dekat dari urat leher manusia. Tentu saja akan sampai, jika mau mengambil langkap pertama ini, taubat. Jangan pernah menyerah untuk selalu bertaubat.

Selama ruh masih dikandung badan, taubat manusia pasti diterima oleh-Nya. Sebesar apapun dosa, asal memenuhi syarat taubat.

Taubat adalah ‘hanya’ langkah pertama. Ia ‘masih’ hanya satu tetes dari lautan sufisme. Namun meskipun setetes, taubat adalah pintu gerbang menuju Allah swt. Tanpanya, tak ada yang sampai kepada-Nya.

Mabuk Kepayang Kepada Allah SWT

Sedangkan Hal, lanjut al-Syaikh, adalah sifat yang muncul pada proses perjalanan waktu. Ia tidak muncul di setiap waktu, melainkan hanya di satu titik waktu, dan titik waktu yang lain. Semisal mabuk kepayang kepada Allah.

Hal juga bisa muncul sebab ia terikat oleh sebuah kondisi. Jika kondisi ini ada, maka Hal akan secara otomatis muncul dan terasa, semisal sabar dan syukur. Ketika orang ditimpa musibah, ia bersabar. Di dalam sungai sufisme, orang yang bersabar disebut ‘merasakan Hal’. Ketika ia menikmati sebuah hidangan, ia bersyukur. Orang yang bersyukur, ia sedang merasakan Hal.

Bila ada yang menyangkal, ‘Saya sudah bersabar dan bersyukur, namun tak merasakan Hal (ekstase/mabuk kepayang kepada Allah)!’. Lah, bagaimana mungkin akan mabuk, orang yang hanya minum satu tetes arak!

Waktu Menapaki Tangga Maqamat

Maqamat (bentuk jamak dari Maqam) ini, lanjut al-Syaikh, ada yang bisa dirasakan di dunia dan di akhirat, yaitu seperti merasakan rindu, keagungan, dan keindahan-Nya.

Orang yang sedang jatuh cinta, akan selalu mengingat kekasihnya. Begitu pula, orang yang selalu mengingat kekasihnya, berarti dia sedang jatuh cinta. Maka untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, selalu sebutlah nama Allah. Karena itu, selama 24 jam, seorang yang sedang menuju Allah, di dalam hatinya berdetak nama ‘Allah’.

Awalnya perlu dipaksakan. Dia memaksa untuk selama 24 jam mendetakkan hatinya dengan nama Allah. Hanya hatinya yang selalu berdengun-dengung Allah, mulutnya diam. Perjuangan memaksa hatinya mendetakkan selalu nama Allah akan benar-benar menghasilkan selama 24 hatinya berdetak Allah. Bahkan, di saat ia tertidur.

Hingga, nama Allah menyatu dengan darah, syaraf, tulang, dan seluruh jiwa raganya. Karenanya, Husen Ibn Mansur al-Hallaj, di saat dieksekusi, darah yang mengalir darinya bertuliskan Allah.

Ada pula Maqam yang bisa dirasakan hingga langkah kaki pertama menginjak tanah Surga. Setelah itu Maqam ini lenyap, yaitu Maqam takut, sedih, dan harapan.

Ada pula Maqam yang hanya bisa diusahakan dan dirasakan sebelum seseorang meninggal dunia. Setelah meninggal, Maqam ini lenyap, yaitu Maqam taubat, wara’, zuhud, mujahadah, riyadah, takhalli, dan tahalli.

Kesempurnaan Lahir-Batin

Hal dan Maqam itu, lanjut al-Syaikh, ada yang harus sempurna lahir batin, yaitu wara’ dan taubat. Artinya, hati dan anggota badan harus sama-sama bertaubat dan wara’. Adalah tidak sempurna taubat orang yang mulutnya sudah bertaubat dari mencaci maki, namun hatinya masih tidak bertaubat.

Ada pula Maqam yang harus sempurna hanya secara batin, tidak usah secara lahiriah. Namun, jika memang mau disempurnakan juga dengan secara lahiriah maka tidak apa-apa, yaitu zuhud dan tawakal. Orang yang bertawakal, bukan berarti dia tidak bekerja.

Tawakal adalah domain hati, bukan fisik. Orang yang sempurna tawakalnya, bisa jadi dia berusaha sekuat tenaga secara fisik. Tawakal itu di hati, bukan di jasad.

Begitu juga dengan zuhud, ia ada di hati, bukan di jasad. Bisa jadi, orang yang zuhud kaya raya. Seperti seorang wali besar, Tuan Guru Besar al-habib Saggaf ibn Mahdi ibn al-Syaikh Abu Bakar ibn Salim, Parung-Bogor.

Seorang wali besar yang kaya raya, mampu menggratiskan puluhan ribu santrinya, dari Paud, SD, SMP, SMA, hingga Perguran Tinggi.

Di jalan menuju Allah, tak ada Maqam yang hanya lahiriah. Demikian uraian ini sangat singkat. Jika kau menempuh jalan ini, engkau akan sampai kepada Allah. In salakta, washalta. Demikian al-Syaikh menutup uraiannya.

 

Sumber : http://www.qureta.com/post/pintu-gerbang-menuju-allah

About syauqi glasses

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *