Home / Featured / Psikologi Sufi

Psikologi Sufi

Bisakah pengalaman diletakkan di bawah mikroskop? Dengan pertanyaan ini, Michael Foucalt, penulis buku Psychology From 1850 To 1950 barangkali ingin menyindir sejarah psikologi sebenarnya kontradiksi. Psikologi menginginkan menjadi sains objektif seperti biologi, tetapi realitas manusia ternyata tidak bisa disederhanakan sekedar menjadi objek ilmiah.

Bagi peminat psikologi, mungkin pandangan strukturalis terasa berlebihan. Psikologi yang sudah berusia berabad – abad tiba – tiba diruntuhkan seketika. Tetapi meskipun psikologi masih mengklaim sebagai sains empiris (empirical psychology) nyatanya banyak pemikiran psikolog yang bersifat spiritual. Misalnya teori peak- experience Abraham Maslow yang mengkonfirmasi “pengalaman puncak” spiritual para nabi, sufi dan rahib. Atau logo terapinya Viktor Frankl yang mengapresiasi dimensi keruhanian, meskipun tidak bersifat religius – teosentris.

“Oase” spiritual yang berasal dari buddha banyak dipelajari, tentang hakikat manusia dan perkembangannya untuk dibandingkan dengan teori psikoanalisis. Dengan fakta – fakta tersebut, tidak berlebihan jika dikatakan psikologi diguncang penyimpangan – penyimpangan, jika tidak kebetulan, sejak istilah yang bersifat spiritual membanjiri psikologi.

Pada intinya, psikologi sufi adalah ajaran tasawuf tentang manusia, karena memetakkan

  1. Kondisi psiko – spiritual manusia
  2. Dengan sudut pandang sufistik
  3. Untuk mensucikan hati

Dari segi ontologis – epistemologis, psikologi sufi mengatakan manusia sebagai makhluk “multi bio – psiko – spiritual” (yang terdiri dari ruh, hati, akal dan jiwa) tidak dapat diketahui secara utuh kecuali dengan kacamata spiritual, karena hanya kaca mata spiritual yang bisa mengenali hal – hal spiritual. Suara hati yang paling dalam contohnya, tidak bisa ditembus kecuali oleh mata hati.

Sementara dari aspek aksiologisnya, psikologi sufi percaya bahwa orang baru bisa dikatakan sehat jika hatinya benar – benar bersih, sehingga kebersihan hatinya memiliki koneksi dengan Tuhan. Sebaliknya, jika hati masih di bawah kendali nafsu, maka dinilai menderita gangguan mental. Karena itu, untuk pembersihan hati para sufi mengembangkan semacam sufi – healing atau terapi spiritual seperti para psikolog mengembangkan psikoterapi.

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *