Home / Featured / Puasa Dan Kemanusiaan Kita

Puasa Dan Kemanusiaan Kita

Sayed Hosein Nasr berpendapat, krisis dunia modern paling mengerikan bukan krisis ekologi, tapi krisis kemanusiaan, yakni teralienasinya, terasingnya manusia dari hakikat kediriannya. Al-Quran memandang manusia sebagai makhluk jasmaniah sekaligus ruhaniah. Dalam modernitas, terjadi dehumanisasi, dimana yang ruhaniah tak banyak diberi perhatian. Dilepaskan dari dimensi ruhaniahnya, kemanusiaan menjadi “kemanusiaan yang berpenyakit”. Akibatnya, “semakin banyak orang pandai, semakin sulit dicari orang jujur” demikian kata Jean Jaques Rousseau. Rousseau berpendapat, semua penyakit kemanusiaan timbul karena manusia hanya mempertajam akalnya saja dan mengesampingkan panggilan hati-nurani. Manusia yang hanya berfikir saja adalah binatang yang bercacat. Ilmunya membumbung ke angkasa, tapi hatinya diperbudak kerakusan, kebencian, iri hati, kegersangan emosi dan penipuan; keterampilannya mampu menggerakkan gunung-gunung, tapi tak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

 

“Manusia adalah makhluk bi-dimensional” ujar Ali shariati, ideolog revolusi Islam Iran. Manusia adalah makhluk jasmaniah sekaligus ruhaniah. Karena itu, dalam dirinya ada potensi untuk berhubungan dengan dunia material dan spiritual. Ia mampu menangkap hukum alam di balik gejala-gejala fisik yang diamatinya, tapi ia juga mampu menyadap isyarat-isyarat gaib dari alam yang lebih luas lagi. Bila satu potensi dikembangkan luar biasa sedangkan potensi lain dimatikan, manusia menjadi makhluk yang bermata satu.

 

Seorang pejabat akan melihat kumpulan rakyat kecil sebagai angka yang dapat dikalikan dengan satuan biaya dan menghasilkan proyek milyaran rupiah. Tetapi ia tidak mampu memadang butir-butir airmata kepedihan di balik mata-mata yang cekung dan ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk yang mencuat. Seorang sarjana akan mampu melihat keteraturan di alam semesta, tetapi tidak mampu menyimak sang pencipta di balik semua keteraturan itu. Seorang dokter segera dapat melihat gejala-gejala penyakit pasiennya, tetapi tidak mampu melihat sentuhan kemanusian di dalamnya; sehingga ia hanya memandang pasien sebagai sebongkah tubuh yang dikalikan dengan ribuan rupah biaya rupiah. Seorang ahli hukum cepat mengetahui pasal mana yang dapat dipakai untuk memenangkan perkara, tetapi buta dengan isyarat-isyarat keadilan; sehingga klien berubah menjadi sapi perahan. Demikian pula dengan institusi. Sentra-sentra pendidikan berubah dari fungsi edukatifnya menjadi –peternakan manusia—yang mencetak “para tukang” yang pakar berbagai dispilin ilmu namun minus kesadaran akan kemanusiaanya yang spiritual. Kantor-kantor di perkotaan dibuat seperti pabrik, dimana pekerja dianggap sebagai “robot-robot” tanpa rasa, yang bekerja secara mekanistik dengan sistem birokrasi dilengkapi aturan-aturan pendisiplinannya.

 

Kebahagiaan, ketentraman, keindahan, kesucian, keadilan, keharuan adalah gejala ruhaniah. Gejala ini tidak akan dimiliki jika potensinya dimatikan. Karena itu, tumpukan uang tidak melahirkan kebahagiaan. Rumah megah tidak menyiramkan ketentraman, barang-barang mewah tidak memancarkan keindahan. Upacara keagamaan yang kolosal dan spektakuler tidak menumbuhkan kesucian. Seperangkat peraturan tidak mendatangkan keadilan. Dan sejuta keluhan tidak menyentuh keharuan.

 

Thomas Merton berkata,”Anda tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sistem. Anda tidak bisa meraih kedamaian tanpa kedermawanan. Anda tidak bisa mendapatkan keteraturan sosial tanpa orang-orang suci, kaum mistis, dan para nabi.” Tidak ada satu sistem, teori, ideologi atau apapun namanya dapat menyelamatkan dunia dari krisis. Kita butuh orang-orang suci yang dengan sinar ruhaninya memancarkan kasih sayang dan menerangi kegelapan. Dunia sekarang lebih memerlukan kehadiran seorang manusia suci daripada seribu “manusia nalar” . Manusia suci dalam Islam disebut manusia taqwa. Sebagaimana diperlukan sekolah untuk mendidik manusia-manusia intelektual, maka diperlukan madrasah ruhaniah untuk manusia-manusia taqwa. Madrasah ruhaniah itu adalah puasa (shaum). Jadi, puasa merupakan salahsatu wahana pemenuhan kebutuhan ruhaniah, sekaligus latihan spiritual manusia.

 

Dalam psikologi perkembangan, kita tahu bahwa, dalam perkembangan kepribadiannya, manusia mengubah-ubah bentuk kebutuhannya. Dengan kata lain, kenikmatan manusia berganti-ganti sesuai dengan perkembangan kepribadiannya. Pada tingkat paling awal, kebutuhan manusia hanya berkaitan dengan hal-hal konkret, berwujud, dan kelihatan; yang perlu pemuasan yang sesegera mungkin. Abraham Maslow membuat piramida kebutuhan manusia: semakin tinggi, semakin abstrak kebutuhannya. Pada tingkat paling bawah, manusia hanya memenuhi kebutuhan makan, minum, atau kebutuhan biologis. Bila kebutuhan biologis terpenuhi, kebutuhannya naik. Kebutuhan di atasnya adalah kebutuhan akan kasih sayang, ketentraman, dan rasa aman. Lebih atas lagi, kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Lebih atas lagi, kebutuhan akan aktualisasi diri. Dalam Islam hal ini disebut al-takamul al-ruhani, proses penyempurnaan spiritual. Itulah tingkat paling tinggi dalam kebutuhannya.

 

Senada dengan Maslow, Sigmund Freud menganalisa perkembangan kesenangan anak-anak kecil. Menurutnya, ada tiga tahap perkembangan kenikmatan anak-anak. ketiganya memiliki kesamaan: bersifat konkret. Tahap perkembangan itu: pertama, periode oral dimana kesenangannya terletak pada mulutnya. Kesenangan ini diperoleh dalam pengalaman pertama ketika dia menyusu pada ibunya. Kemudian, ia belajar memasukan apa saja ke dalam mulutnya. Pada periode ini, jika anak diperintahkan untuk berjalan, dia akan berusaha mengambil sesuatu dan mencoba memasukkannya ke mulut. Bila tidak ada sesuatu yang diraih untuk dimasukkan ke dalam mulutnya, dia memasukkan tangannya sendiri. Kedua, periode anal. Kesenangan didapat ketika dia mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Seperti ketika, buang air besar/kecil. Karena itu, pada periode ini, seorang anak bisa berlama-lama di atas toilet. Dia senang melihat tumpukan kotorannya, dan kadang mempermainkannya. Ketiga, periode genital. Periode persiapan menuju dewasa, dimana kesenangan didapat dengan mempermainkan alat kelaminnya dan memperlihatkannya pada orang tuanya. Namun, pada orang-orang tertentu kepribadiannya terhambat. Hambatan kepribadian itu disebut fiksasi. Misalnya, ada orang yang dari sisi usia dewasa, namun ia hanya memperoleh kenikmatan pada makan dan minum saja. Perbedaanya, dia mengubah makan dan minum itu ke dalam bentuk simbol, misalnya dalam bentuk pemilikan kekayaan. Ia memperoleh kenikmatan dengan melihat banyaknya kekayaan yang dimilikinya. Dia memperoleh kenikmatan dengan membaca laporan depositonya di bank. Ia tidak menggunakan depositonya, takut berkurang. Orang seperti ini terhambat pada tahap kedua, periode anal yakni tahap kenikmatan melihat kotoran. Tumpukan kekayaannya itu pada dasarnya merupakan pemuliaan, simbolisasi dari kenikmatan melihat kotoran.

 

Dalam puasa, kita melatih diri kita untuk meninggalkan masa kanak-kanak kita. Kita mencoba menahan untuk tidak memenuhi kebutuhan oral kita: makan dan minum. Meninggalkan tahap genital dengan mengendalikan nafsu seks kita. Kita belajar menjadi dewasa, kita berusaha memenuhi kebutuhan ruhaniah kita. Kita mulai meninggalkan keterikatan pada tubuh, dan mendekati ruh kita. Wa Allah a’lam bi al-shawab.

 

Sumber ; http://www.kompasiana.com/subhi78/puasa-dan-kemanusiaan-kita_553003086ea834c3078b45ae

 

 

 

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *