Home / Featured / Puasa Ruhani

Puasa Ruhani

Secara normatif Islam menghendaki kehidupan seimbang dunia akhirat, materi dan ruhani. Menurut Cak Nur keseimbangan ini merupakan sentral islam, sehingga tasawuf yang dalam sejarahnya terperosok dalam sikap ekstrim menjauhi dunia pada akhirnya kembali pada doktrin sentral ini. Tetapi dalam kenyataannya sangt sulit menempuh kesimbanagan itu, meskipun secara teoritis kita bisa bisa berdzikir sambil sibuk mencari dunia, tetapi momen ideal seperti itu yang sangat sulit diwujudkan orang. Bukankah kesenangan dunia disafari atau tidak seringkali melenakkan banyak orang. Barangkali, ketika menyendiri mungkin orang bisa ingat Tuhan apalagi dalam keadaan banyak kesulitan. Tetapi ketika kesulitan itu hilang, ingatan itu berlalu seiring dengan kebisingan itu.

Larangan untuk mencintai dunia bukan bermaksud melarang memiliki harta, sebab memiliki harta tidak sama dengan mencintainya. Asalkan harta tidak sampai menguasai hati, begitulah kata – kata bijak para sufi, kecil atau banyak bukan masalah. Tetapi justru inilah akarnya, jika dalam keadaan sedikit banyak orang tergila – gila, bagaimana dengan keadaan banyak harta.

Lebih jauh pada titik ini, kita terasa terlempar begitu saja dalam keadaan paradoks. Di satu sisi sebagai makhluk tidak bisa mengingkari materi. Tetapi di sisi lain, kehidupan materi gampang membuat orang terlena karena memukau banyak orang.

Dalam konteks paradoks inilah, harus diusahakan sebuah kesadaran kita bisa menikmati dunia tetapi tidak mencintainya. Puasa ruhani bertujuan untuk ukuran kesuksesan. Tetapi, jika takwa masih merupakan ukuran abstrak agak sulit untuk merasakan sendiri bertakwa. Maka salah satu ukuran paling gampang adalah “Sudahkah kita bertakwa”

 

About syauqi glasses

Check Also

TASAWUF – Mereka Yang Diberi Hidayah Khusus Oleh Allah

“Dan Allah – yang mulia dengan segala asma-Nya – dalam waktu ke waktu dan dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *