Home / Universalia / Sahur, Momentum Mengais Berkah

Sahur, Momentum Mengais Berkah

Mungkin semua orang sepakat bahwa sahur adalah ibadah yang menyenangkan. Betapa tidak, biasanya ibadah menuntut kerja keras dan terasa membelenggu. Tapi ibadah yang satu sungguh berbeda.

Ia disebut ibadah karena merupakan bagian dalam ritual penting ibadah puasa Ramadhan. Sahur berasal kata sahara dalam bahasa Arab. Ia berarti waktu sepertiga malam terakhir, yakni kira-kira 3 jam sebelum waktu Subuh.

Banyak hadis yang menyebutkan tentang keutamaan bangun dari tidur kita dan makan sahur untuk persiapan puasa. Dan banyak yang memahami rahasia dari sejumlah penekanan dan anjuran tersebut adalah demi keberkahan yang diperoleh dari makanan yang disantap untuk kekuatan fisik kita melaksanakan ibadah puasa.

Bisa saja hal itu benar dan sulit untuk dibuktikan kesalahannya, karena berkah bukanlah sesuatu yang dapat dikenali secara inderawi. Andaikan bisa, pastilah yang kaya punya kesempatan untuk memonopolinya. Meski demikian, manfaatnya dapat dirasakan. Salah satunya adalah sugesti yang terbentuk dalam diri pelaku puasa bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh kita akan memiliki efeknya hingga siang hari esoknya. Dan sungguh beda antara mereka yang makan malam sebelum tidur dengan niat sahur atau bangun pukul 3 atau 4 untuk makan sahur.

Selain itu, terdapat sejumlah berkah lainnya, antara lain:  Pertama, orang yang bangun di malam hari untuk makan sahur, khususnya jika mengamalkan sunnahnya pada akhir waktu, menjelang subuh atau imsak. Ia dapat dipastikan bisa melaksanakan shalat Subuh di awal waktunya. Pelaku sahur akan melaksanakan shalat subuh pada awal waktu. Ini tentu memberikan nilai tambah bagi spiritualitas.

Kedua, bangun malam untuk makan sahur dapat memberikan kesempatan kepada kita untuk mengisi waktu yang sangat berharga itu dengan berdoa dan memhon ampun kepada Allah SWT. Allah SWT menyebutkan salah satu ciri orang yang bertakwa di dalam surah Ali Imran ayat 15-17 adalah orang yang beristighfar di waktu sahur.

Ketiga, Bangun malam untuk makan sahur memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan shalat malam atau yang sering disebut dengan shalatullail/ nafilatullail atau tahajjud.  Shalat ini merupakan shalat sunnah yang sangat dianjurkan di luar dan di dalam bulan suci Ramadhan. Nabi bersabda, Malaikat Jibril selalu mewasiatkan padaku untuk qiyamullail sehingga aku mengira, bahwa orang-orang terbaik dari umatku tidak akan tidur (malam).

Bahkan Allah SWT menyebutkan dalam Al-Quran dalam dua ayat tentang keutamaan shalat malam, bahwa ia sebagai penyebab Nabi SAW mendapatkan tempat (kedudukan) yang terpuji saat dibangkitkan, Dan pada (sebagian) malam lakukanlah (shalat) tahajjud sebagai amalan sunnah bagimu, semoga TuhanMu membangkitkanmu pada tempat yang terpuji (Q.S Al Isro’ 79). Dan ia menjadi penyebab Nabi Muhammad SAW mendapatkan perkataan yang berat (wahyu), Wahai orang yang berselimut (Nabi) bangunlah pada malam hari kecuali sedikit darinya, setengahnya atau kurangilah sedikit darinya atau tambahkanlah darinya, bacalah Al Quran sungguh kami (Tuhan) akan memberikan kepadamu perkataan yang berat. ( Q. S. Al Muzammil 1-5)

Dengan demikian, sahur bisa dianggap sebagai mukaddimah untuk melatih pelaku puasa agar membiasakan diri untuk bangun sebelum azan subuh mengetuk telinga kita dan menjadi habit pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Karena itu, sahur semestinya tidak diisi dengan kesibukan mengirim SMS atau tertawa terpingkal-pingkal melihat tontonan lawak yang jauh dari atmosfir spirtual.

Meraih berkah saat bersahur hanya bisa dilakukan dengan menunjukkan pola hidup yang mengedepankan tangisan akan dosa di hadapan Allah saat bershalat tahajud dan shalat subuh. Itulah berkahnya.

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *