Home / Featured / Sains, Antara Teologi Dan Antropologi

Sains, Antara Teologi Dan Antropologi

Secara antropologis memang bisa dikatakan bila Tuhan adalah nilai nilai dialog kemanusiaan itu sendiri. Tentu ini akan terasa sangat meyalahi kaidah tauhid dimana Allah diyakini sebagai pribadi pencipta semesta alam semesta ini. Sungguh-pun demikian pemahaman Tuhan dari sisi antropologis ini ada di dukung oleh ayat Al Qur’an.
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ
“ Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu ”. – Qs : Shaffat : 96
Secara bahasan filosofis hal ini bisa menggiring pada pemahaman fatalis, dimana manusia pada hakikatnya tidak memiliki kehendak bebas. Padahal dari sisi zahiriyah pemahaman agama hal ini sangat terlarang, dan dari sinilah manusia diberlakukan hukum, baik syariah ataupun keadilan kelak di akhirat. Tetapi bagaimanapun juga ada ayat ayat yang biasa digunakan kalangan fatalis untuk mengukuhkan pemahaman mereka seperti ayat di bawah ini
فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡ‌ۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ‌ۚ
“ Maka [yang sebenarnya] bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar ”. – Qs : Al Anfal : 17
Pembahasan kehendak bebas manusia apakah ada atau tidak sejak zaman dahulu menjadi perdebatan filosofis yang sangat mendasar berkenaan dengan keyakinan iman itu sendiri sehingga melahirkan banyak cabang pemikiran filsafat hingga membuahkan doktrin doktrin, yang mana dari doktrin doktrin itu tak jarang saling bertentangan antara satu dengan yang lain. Banyak orang hendak melakukan tahqiq dalam hal ini, dan itu tak memberi jawaban kepuasan bahkan memperuncing perdebatan hingga pertikaian politik zaman ini berkanaan dengan persoalan agama. Tuhan dan manusia secara kencenderungan dipahami sebagai kutub yang berbeda. Tuhan adalah Sang Khalik, sedangkan manusia adalah makhuk. Dengan bukti bukti logika bisa menunjukkan bila teori ini adalah benar. Sudah menjadi pengetahuan kita bila kita hadir atau ada dalam hidup ini. Kata hadir tentu menunjukkan bila kita dulunya tidak ada, sebagaimana yang di ilustrasikan dalam Al Qur’an
أَوَلَا يَذۡڪُرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَنَّا خَلَقۡنَـٰهُ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ يَكُ شَيۡـًٔ۬ا
“ Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? ”. – Qs : Maryam : 67
Ayat ini meniscayakan ‘Penciptaan’ dalam bahasan kosmologis sehingga jelaslah adanya pemisahan antara Khalik dan makhluk. Bila pemisahan ini ada tentu kehendak bebas itu ada, sebagaimana seorang anak yang menghendaki kuliah kedokteran akan tetapi orang tuanya menghendaki mengambil fakultas hukum. Lalu bagaimana dengan hal berkenaan dalil fatalis tadi?. Maka saya menjawab baik fatalis maupun kehendak bebas keduanya memang ada dan menjadi realita dalam hidup ini, hanya saja dimanakah letak keniscayaan dari dua pendekatan kesadaran berbeda ini kadang kita salah dalam asumsi atau atau persepsi nya juga. Soal kehendak ini memang kabur. Apakah kehendak manusia pastilah kehendak Tuhan, atau mungkin sebagai peluang saja bila manusia bisa menerjemahkan sebagian dari kehendak Tuhan menjadi kehendak kemanusiaan kita sebagai manusia. Artinya kita selaras dengan kehendak Tuhan. Saya lebih mencenderungi hal ini. Lalu bagaimana dengan ayat As Syaffat : 96 itu ?. Ayat ini tentu tidak bisa dijadikan argumen untuk melakukan tindak pembenaran bagi mereka yang berbuat zalim atau merusak harmoni dalam hidup dan kosmos ini. Sebab, secara kenyataan bila kehendak bebas pada manusia itu memang ada, dan juga ada dalil Al Qur’an yang memadai untuk itu. Jadi, ayat itu tidak berlaku secara umum, artinya, ayat itu ada konteks bahasannya. Lalu bila saya di tanya :“Apa konteks ayat itu?”, saya menjawab :“Ayat itu berkonteks kosmologi”. Ketahuilah bila kosmologi bukan bahasan moral. Kosmologi adalah bahasan segala sesuatu berkenaan dengan hidup dan realita, dan di dalamnya tentu juga masih ada terma terma terpisah dikarenakan hidup dan realita ini sangatlah agung dan luas. Tetapi kosmologi biasanya berkenaan dengan filsafat, agama, dan sains. Kosmologi agama memang berbeda dengan kosmologi sains. Kosmologi agama tentu bahasan berkenaan tentang hubungan antara Tuhan dan manusia. Sedangkan kosmologi sains adalah bahasan tentang mekanisme alam. Karena jagad kemanusiaan termasuk bagian dari kosmologi, tentu hal itu membutuhkan terma untuk memudahkan pembahasan, dan itulah moral. Moral bagian dari Kosmologi Moral sebenarnya bagian dari kosmologi. Tetapi tidaklah bisa moral dijadikan batasan bagi pemahaman kosmologi. Tentu dikarenakan cakupan moral khusus berkenaan dengan jagad kemanusiaan dan yang berkelindan nya. Ambillah contoh, seseorang tidak bisa menggunakan terma moral untuk memahami astrofisika ataupun fisika kuantum, sebab memang cakupan dimensi yang berbeda. Ayat Al Qur’an juga menyatakan bila moral bagian dari kosmologi
إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (١٩١)
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (190) [yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi [seraya berkata]: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (191) ”. Qs : Ali Imran 190-191 Islam mengajarkan harmoni, dan dalam bahasa agamisnya disebut akhlak, atau akhlakul karimah. Dan akhlak berkenaan dengan hubungan kepada Allah, dan juga kepada manusia. Dan memang moral yang kosmologis cenderung akhlak berhubungan dengan Allah dimana pada hakikanya alam memang maujud sifat Allah dalam kesadaran manusia. Tetapi sungguh bila harmoni dengan sesama manusia juga tidak bisa diabaikan, karena itulah ajaran sunnah Rasulullah s.a.w. selalu menekankan tentang baiknya akhlakul karimah, sedangkan dalam tasawuf Islam biasa di istilahkan dengan ‘adab’.
ضُرِبَتۡ عَلَيۡہِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱلنَّاسِ
“ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia … ”. – Qs : Ali Imran : 112
لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةِ وَٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآٮِٕلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَـٰهَدُواْ‌ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ
“ Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir [yang memerlukan pertolongan] dan orang-orang yang meminta-minta; dan [memerdekakan] hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar [imannya]; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa ”. – Qs : Al Baqaran 177
قَوۡلٌ۬ مَّعۡرُوفٌ۬ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٌ۬ مِّن صَدَقَةٍ۬ يَتۡبَعُهَآ أَذً۬ى‌ۗ وَٱللَّهُ غَنِىٌّ حَلِيمٌ۬
“ Perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan [perasaan si penerima]. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun ”. – Qs : Al Baqarah : 263
Dan masih ada sangat banyak sekali ayat ayat Al Qur’an yang menganjurkan melakukan harmonisasi dalam jagad kemanusiaan. Dan itu sebagai amal shalih berupa akhlaqul karimah seperti yang biasa menjadi terma dalam tasawuf. Lalu, apa hubungannya dengan pemahaman antropologis tentang Tuhan adalah dialog kemanusiaan itu sendiri seperti awal bahasan ini?. Ya, soal Tuhan begitu tidak jelas dan bisa dibakukan sebagai satu pemahaman mutlak di akui bersama, padahal terma Tuhani yang disebut agama itu selalu menghendaki kemutlakan, padahal obyeknya sendiri abstrak. Karena inilah manusia tidak akan pernah ada kesepakatan soal Tuhan, baik secara individual ataupun kelompok hingga kebudayaan. Tuhan akan selalu menurut tafsiran ilmu pengetahuan masing masing. Mungkin sains akan berkata bila Tuhan adalah alam semesta ini sendiri, sedangkan para pemain kekuasaan mendefinisakan bila Tuhan adalah politik, dan bagi orang orang yang tidak terlalu pintar akan berpendapat bila Tuhan adalah gemerlap hidup dan pemenuhan ego, dsb, menurut basik kesadaran masing masing. Tetapi setidaknya dikatakan bila Tuhan dalam bahasan kosmologis itu yang paling utama, sebab, Kitab Suci pun menyatakan
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam ”. – Qs : Al Fatihah : 2
Sedangkan Tuhan versi ego itu yang paling bawah dalam urutan penuhanan seperti dikatakan dalam ayat
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٍ۬ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةً۬
“ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? ”. – Qs : Al Jatsiyah : 23
Kerancuan soal Tuhan dan penyebabnya Soal Tuhan dan penuhanan memang sering rancu dalam pemahaman dan bahasan. Kerancuan ini juga sebagai pemicu pertentangan soal Tuhan sepanjang peradaban manusia itu sendiri. Pada dasarnya soal Tuhan selalu bermula dari hal hal yang psikologis dikarenakan faktor kelemahan manusia menghadapi realita dan karena tuntutan fitrah nilai kemanusiaan itu sendiri sehingga manusia butuh hal yang lebih besar, lebih kuasa, lebih intelektual, dan lebih lainnya yang manusia bisa mengambil kemanfaatan dari itu. Dari sinilah muncul penuhanan. Maka Tuhan bisa saja berupa patung, makanan, uang, sistem kekuasaan, dsb. Sedangkan agama monotheisme sebenarnya melontarkan ide yang lebih besar dari penuhanan penuhanan secara instink tradisional. Dan dari ide monotheisme ini sains hadir meski akhirnya memisahkan diri dari agama agama dikarenakan sains sudah terbentuk dan tidak berkutat pada hal filosofis lagi, akan tetapi mengarah pada teknis dan buahnya berupa teknologi. Tuhan dalam perspektif Antropologi Baiklah ya, kita sudah mulai mengenal bila Tuhan dan penuhanan itu berbeda. Maka kita kembali pada usaha memahami Tuhan secara antropologis yang menjadi inti bahasan ini. Sebenarnya pemahaman bila Tuhan adalah dialog nilai kemanusiaan bersumber dari pemahaman perkembangan kebudayaan dan peradaban. Tentu ini sama sekali berbeda dengan mistisisme agama dimana Tuhan dipahami sebagai pribadi yang bisa dianalogikan seumpama manusia dimana Dia punya nama, punya ego, punya sifat, dan memiliki zat atau wujud-Nya, meskipun wujud-Nya tidak bisa dipahami dikarenakan multiabstrak. Dalam bahasan budaya dan peradaban kita ketahui bila manusia tidak ada kesepakatan soal Tuhan. Dari sinilah teori ini bisa berkembang. Ada suatu ayat Al Qur’an yang menjadi inspirasi bagi teori ini.
قُلۡ هُوَ ٱلۡقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبۡعَثَ عَلَيۡكُمۡ عَذَابً۬ا مِّن فَوۡقِكُمۡ أَوۡ مِن تَحۡتِ أَرۡجُلِكُمۡ أَوۡ يَلۡبِسَكُمۡ شِيَعً۬ا وَيُذِيقَ بَعۡضَكُم بَأۡسَ بَعۡضٍ‌ۗ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأَيَـٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَفۡقَهُونَ
“ Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan yang saling bertentangan dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami ”. – Qs : Al An’am : 65
Pemahaman fatalis juga meniscayakan kausalitas. Maka selalu menjadi pengertian dalam masyarakat riligius bila Tuhan adalah sumber sebab akan segala sesuatu, dan dalam hal ini adalah pertentangan pertentangan dalam jagad kemanusiaan seperti di ilustrasikan oleh surah Al An’am ayat 65 di atas. Ketika itu dipahami sebagai hal kosmologis yang tidak jagad kemanusiaan saja (moral) dengan meminjam cara metodologis dari sudut pandang yang agak luas sehingga sedikit mengabaikan penuhanan akan Tuhan yang Maha Mulya, tentu akan menjadi benar bila dikatakan Allah sendirilah penyebab pertentangan pertentangan itu, dan memang Dia menghendakinya selaras dengan ayat 65 dari suart Al An’am. Secara fungsi dari chaos yang dikehendaki Tuhan bila menurut ayat itu adalah ‘agar mereka memahami’. Nah, kita menjadi bertanya tanya, memahami apakah itu, terlebih untuk menuju pemahaman itu kita diberi sensasi yang menyakitkan oleh Tuhan. Dari sisi manusia, pertentangan itu biasanya berupa ketidak sepakatan ide. Kita ambil contoh yang sedang marak akhir akhir ini dalam keberumatan umat Islam, dimana syariah sekarang sedang ngetrend sebagai media politik, dimana pada bagian lain syariah dipahami sebagai jalan amal shalih. Kedua kelompok ini sama sama menganggap bila dalih untuk melaksanakan ide ide itu dari Tuhan. Nah, pertentangan pertentangan ini membuahkan dialog keberumatan pada skala peradaban. Kita mafhum, bila peradaban mewakili seluruh umat manusia tanpa pengecualian apapun, selama dia tinggal di planet bumi ini bersama seluk beluk dan segala hal berkenaan dengannya maka dia berperadaban bumi ini. Jadi, peradaban adalah sumbangsih dari semua manusia mulai dari individu hingga kebudayaan, dan dalam perjalanan rentang waktunya sehingga sat ini yang biasa disebat peradaban modern milenium 21. Dan peradaban yang tercapai sekarang ini sebenarnya juga tercipta dikarenakan pertentangan pertentangan itu juga, padahal Tuhan pula lah yang menghendaki adanya pertentangan itu. Dari sinilah menjadi terkuak bila Tuhan adalah dialog nilai nilai kemanusiaan itu sendiri. Bahasan ini tentu saja mengabaikan mistisisme agama, karena memang kita membicarakan Tuhan dari sudut antropologis, bukan tasawuf ataupun bagian kajian-kajian agama yang lainnya. Terminologi keilmuan memang selalu ada, dan orang bijak bisa menempatkan dengan tepat akan bahasan bahasan berragam itu. Sebenarnya tidak ada kemutlakan itu. Kemutlakan biasa menjadi obsesi orang-orang yang masih sangat jauh dalam pencarian mereka dengan idealisme masing masing. Suatu ilmu bagai batu-bata yang menyusun sebuah tembok, anda bisa menyusun batu-bata itu satu demi satu menjadi satu tembok yang anda lihat kokoh, padahal tembok itu sebagai kumpulan dari banyak batu-bata batu-bata dimana anda juga bisa memegang satu atau beberapa dari banyak batu-bata batu-bata. Tetapi orang bodoh akan mengatakan satu batu-bata yang dipengang itu sebagai tembok. Jadi, suatu ilmu pengetahuan memang suatu fak tersendiri, akan tetapi pasti terhubung dengan fak ilmu ilmu selain itu. Ini akan menurut sejauh mana manusia mampu memahami apa yang ada dihadapannya. Tuhan secara antropologis maujud dalam agama Kristen dimana Tuhan di personifikasikan kepada Yesus. Demikian juga dalam ajaran Buddha bila Sang Buddha sebagai sosok pembabar deis itu sendiri ketika beliau selaras dengan alam semesta. Deisme dalam Islam juga ada, yaitu ajaran Hulul, Wihdatul Wujud, ataupun Wihdatus Syuhud, dimana semua itu berintikan satu hal saja, selarasnya hamba dengan Tuhan. Agama adalah af’al Tuhan, sedangkan alam semesta adalah maujud sifat Tuhan dalam kesadaran manusia. Sedangkan zat atau wujud-Nya tidak dapat dipahami karena multiabstrak. Materialisme dan Satanis Dari sisi sebaliknya. Ketika Tuhan selalulah hal-hal abstrak dan psikologis, sebagian manusia menteorikan Tuhan dari sisi materialistisme. Dari sisi ini sains lahir, dalam artian bila penuhanan haruslah riil, tidak boleh berupa misteri dan abstrak. Tetapi dari sisi ini pula muncul ide-ide satanis, dimana ini berupa rival dari ide-ide agama yang standar. Kesamaan satanis dan sains memang pada materialistisme, tetapi hal ini tidak sepenuhnya sama. Sains punya objek yang jelas observasi nya dan produk teknologi yang tidak selalu bertentangan dengan moral, tinggal motif penggunaan teknologi itu sendiri demi mendukung moral yang menjaga harmoni dan perbaikan atau perusakan yang ditimbulkan karena ambisi ambisi. Sains dalam posisi netral. Tetapi tidak demikian dengan satanisme. Satanisme meski kadang terasa humanis tetapi penuh intrik keji dan kepalsuan. Ide penuhanan satanisme sebenarnya jauh lebih kuno dibanding sains. Bagaimanapun juga agamalah yang menjadi cikal bakal sains modern. Sedangkan satanisme berakar pada kejahatan, perbudakan, ketidakadilan, dan kezaliman. Satanisme sebenarnya sudah ada sejak peradaban awal manusia, tentu ini berupa nilai-nilai anti kemanusiaan. Tuhan menyatakan dalam Al Qur’an
أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَـٰنَ‌ۖ إِنَّهُ ۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ۬ (٦٠) وَأَنِ ٱعۡبُدُونِى‌ۚ هَـٰذَا صِرَٲطٌ۬ مُّسۡتَقِيمٌ۬ (٦١)
“ Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, (60) dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. – Qs : Yasin : 60-61
Demikianlah, dalam ayat ini memberi pekabaran betapa Tuhan mendukung manusia dan Dia memberi peringatan agar jangan salah langkah. Penuhanan versi Sains Sedangkan ide Tuhan dalam sains mungkin memang sedikit lebih modern dibanding yang satanis. Ini dapat kita temukan dalam kisah ketika mereka masih bersama Musa a.s.
وَإِذۡ قُلۡتُمۡ يَـٰمُوسَىٰ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهۡرَةً۬ فَأَخَذَتۡكُمُ ٱلصَّـٰعِقَةُ وَأَنتُمۡ تَنظُرُونَ
” Dan ingatlah, ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya “. – Qs : Al Baqarah : 55
يَسۡـَٔلُكَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَـٰبِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيۡہِمۡ كِتَـٰبً۬ا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ‌ۚ فَقَدۡ سَأَلُواْ مُوسَىٰٓ أَكۡبَرَ مِن ذَٲلِكَ فَقَالُوٓاْ أَرِنَا ٱللَّهَ جَهۡرَةً۬ فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلصَّـٰعِقَةُ بِظُلۡمِهِمۡ‌ۚ
” Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya “. – Qs : An Nisa : 153
Dua ayat di atas mengisahkan permintaan bukti faktual bila Tuhan sebagai obyek yang bisa di observasi, dan itu prinsip sains. Tetapi Tuhan menolak permintaan itu di dianggaplah manusia berbuat zalim. Mungkin ini tidak salah secara akal nalar sekalipun, sebab, Tuhan terlalu agung sehingga tidak bisa dicerna oleh akal, dalam pembahasaan yang mungkin bisa di lakukan adalah menggunakan istilah bila Tuhan ‘multiabstrak’ dan itu berkenaan dengan zat atau wujud-Nya. Sedang berkenaan dengan kehendak-Nya berupa wahyu yang kemudian maujud menjadi agama. Adapun sifat Tuhan adalah maujudnya alam semesta ini dimana sebenarnya itu sebagai bayangan zat Tuhan itu sendiri. Ketika bayangan-Nya saja sudah beigtu kita sadari sebagai wujud dan realita, maka bagaimana dengan zat-Nya?. Akal tidak bisa mencerna. Secara dialektis bisa kita pahami pada ayat yang berkenaan dengan penuhanan versi sains. Ketika rahasia Tuhan itu tersingkap manusia tidak mampu mengendalikan kesadarannya, dan pada dua ayat itu di ilustrasikan dengan ‘disambar halilintar’. Ini juga terjadi pada Musa a.s.
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُ ۥ رَبُّهُ ۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَ‌ۚ قَالَ لَن تَرَٮٰنِى وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَڪَانَهُ ۥ فَسَوۡفَ تَرَٮٰنِى‌ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ ۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُ ۥ دَڪًّ۬ا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقً۬ا‌ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
” Dan tatkala Musa datang untuk [munajat dengan Kami] pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman [langsung] kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah [diri Engkau] kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya [sebagai sediakala] niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman ”.– Qs : Al A’raf : 143
Secara antropologis, seharusnya ini sebagai inspirasi tentang perkembangan sains itu sendiri. Ketika manusia semakin tumbuh intelektualnya mampu menyingkap rahasia rahasia hidup dan alam semesta ini harusnya juga mencari solusi agar sains tidak berkembang sebagai media perusakan. Dan tentu ini soal moral. Sains harus dibarengi dengan moral sebagaimana Musa bertaubat kepada Tuhan setelah mengalami ketersingkapan rahasia.

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *