Home / Universalia / Pandangan Dunia / Satu Islam, Beda Mazhab (Bag.1)

Satu Islam, Beda Mazhab (Bag.1)

Persatuan adalah unsur asasi, kebutuhan primer, untuk keberlangsungan umat, dan mempercepat kembalinya umat dan membangkitkannya tatkala berada dalam kondisi kekacauan pikiran dan peradaban, melawan kekuatan setan dan kecendrungan-kecendrungan ateisme, yang terus menerus berusaha menancapkan hegemoninya atas seluruh manusia, serta meluaskan pengaruhnya di seluruh negeri dan menguasai seluruh jagat raya ini, baik dalam aspek pemikiran dan ideologi melalui jalan mempropagandakan filsafat materialisme, melontarkan pikiran-pikiran dan pandangan-pandangan yang menyimpang, yang dengannya hawa nafsu sesat dan pikiran yang tercemar berpengaruh, untuk menjauhkan manusia seluruhnya di bawah rencananya dan menyimpangkannya dari jalan alamiahnya yaitu jalan yang menuju kepada Penciptanya yang agung dan Tuhannya Yang Mahabijaksana.

Juga dalam aspek material dan ekonomi melalui jalan perampokan sumber daya alam dan eksploitasi semua potensinya. Korbannya menjadi orang-orang yang tertindas dan terhalang dari mendapatkan keuntungan alam mereka. Jumlah mereka mayoritas, seperti yang bisa kita saksikan saat ini—sayang sekali—di dunia nyata ini.

Karena itu masalah persatuan adalah masalah yang sangat penting dan faktor yang bertanggungjawab bagi keberlangsungan dan kekokohan eksistesnsi umat. Dan apa yang dijelaskan al-Quran mendukung hal ini, al-Quran menyeru kepadanya dan menyukainya. Allah Swt berfirman, Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Anfal:46), dan firman Allah, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran:103).

Hal ini karena persatuan, kebersamaan, dan keterikatan adalah sumber kekuatan dan kemenangan. Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan adalah sumber untuk menjaga syariat serta untuk membela diri dari berbagai serangan dan tantangan, menghilangkan berbagai dosa dan kezaliman. Allah Swt berfirman, Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja … (QS. al-Anfal:60).

Persatuan adalah kekuatan, dan kekuatan adalah alat yang bisa memangkas kuku kekuasaan kaum thagut dan kaum imperialis, memotong pengaruh kaum zindik dan ateis, menaklukan ketamakan orang-orang yang sombong dan takabur.

Kepemimpinan hanya ditujukan untuk kebenaran dan keadilan. Di bawah naungan kepemimpinan yang benar dan kemunculan keadilan, manusia hanya akan tunduk kepada Penciptanya Yang Mahaagung, dia hanya mengarahkan wajahnya kepada Tuhannya Yang Mahabijak, lidahnya hanya mengucapkan tasbih kepada Tuan dan Mawlanya, dia hanya takut kepada Allah Swt, sehingga kemerdekaannya yang sempurna terwujud untuknya, dia merasakan wujud dan nilai-Nya, karena tidak ada lagi kekuasaan selain kekuasaan Allah Swt, dan tidak ada lagi penjajahan atas seseorang atau makhluk, sesuai dengan kadar dan timbangannya. Dalam kebenaran manusia adalah sama, tidak ada kelebihan antara satu dengan yang lain, juga antara satu kelompok dengan kelompok yang lain kecuali dengan ketakwaan dan amal saleh. Yang diterapkan hanya hukum-hukum dan syariat Allah serta keutamaan-keutamaannya, menyebarkan akhlak yang mulia, menyalakan cahaya-cahaya ketaatan, menghilangkan berbagai kejahatan dan kemunkaran, mengarahkan kepada nilai-nilai yang tinggi, akhlak terpuji, mewujudkan keamanan dan kenyamanan, manusia merasa bahagia dengan kehidupannya dan menikmati eksistensinya.

Ini adalah buah dari persatuan yang melaluinya terwujud kemuliaan agama, tegaknya hukum dan syariatnya. Hal ini tidak akan samar bagi semua orang yang berakal sehat ketika melihatnya dengan mata yang jeli, tidak kabur, dan juga mendengar dengan telinga yang bening tanpa ada halangan apapun.

Sebaliknya kita mendapatkan bahwa perpecahan dan bercerai berai akan mengantarkan kepada kerugian dan kehancuran, kekalahan dan ketaklukan, faktor yang akan memberi kesempatan kepada musuh-musuh umat yaitu kaum thaghut dan orang-orang congkak, kaum zindik dan ateis. Inilah saat yang mereka tunggu-tunggu, mereka membuat jalan untuk menghancurkannya dari berbagai arah, serta menyerangnya dari setiap tempat, dan di dalamnya mereka menyebarkan rayuan-rayuan mereka, menumpahkan kemarahan dan kedengkian yang mereka pendam, mereka menimpakan berbagai macam kehinaan dan keburukan, mereka merusak keagungannya, yang akan menyebabkan tumpahnya darah para syuhada yang suci dan arwah-arwah mereka yang murni, karena kaum thaghut itu seperti yang digambarkan Allah Swt berikut, Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. at-Taubah:10).

Karena itu Allah mengingatkan umat ini—terutama seruan ishlah—dari terkena penyakit perpecahan, atau terkena budaya jahiliyah yang diwariskan oleh orang-orang yang memusuhi, atau rasa fanantisme membawa mereka kepada perpecahan dan saling menjauhi.. berlaku di antara mereka perpecahan dan perselisihan. Untuk semua ini Allah telah menjanjikan azab yang pedih dan siksaan yang menyakitkan di akhirat, karena terjadinya fitnah dan musibah di dunia ini.

Allah Swt berfirman, Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran:105). Untuk menekankan pentingnya persatuan ini dan bersungguh-sungguh dalam memuliakan dan merealisasikannya, Islam mewajibkan adanya hubungan yang harus ada antara kaum Muslim seluruhnya, di atasnya ada hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Allah Swt berfirman, Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara .. (QS. al-Hujurat:10). Yaitu bahwasanya kaum Muslim adalah benar-benar bersaudara, saling mengasihi dan saling berhubungan dan bahwasanya ikatan yang berjalan di antara mereka adalah ukhuwwah, dan itu meliputi semua kaum Muslim tanpa kecuali.

Allah Swt berfirman, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. (QS. at-Taubah:71). Juga firman-Nya, Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal:63).

Ayat yang jelas ini menjelaskan bahwa ikatan yang ada di antara kaum Muslim berdiri di atas rasa ukhuwah dan kecintaan, persatuan dan saling kasih mengasihi, rela berkorban dan tidak mementingkan kepentingan pribadi. Ikatan ini ditandai dengan tidak ada adanya kepentingan dan target pribadi, karena ikatan ini lahir dari hati sanubari, murni hanya untuk Allah Swt, tidak ada kekurangan, tidak tercemar keaiban, tidak dibatasi dengan waktu dan tempat atau perkataan.

Kaum Muslim seluruhnya baik orang Arab maupun non-Arab, baik yang berkulit putih maupun hitam, baik yang lalu maupun sekarang adalah umat yang satu, kedudukan mereka sederajat, mereka harus saling melindungi, tidak ada perbedaan di antara mereka, tidak ada perbedaan dalam derajat mereka kecuali karena ketakwaan dan amal saleh.

Kemudian lahirlah Sunnah yang suci, untuk mendukung kandungan kitab yang agung, semakin memperkokohnya, dia membawa di dalam kandungannya segala yang serupa dengan yang dijanjikan (di dalam al-Quran), bagi setiap orang yang jiwanya mengalir dan setan menguasainya yang hendak merusak ikatan ini, atau mengurangi urgensinya, atau berusaha meruntuhkan fondasinya. Karena itu untuk menjaganya dengan ketat dan memenuhi haknya serta melindunginya dengan kokoh, Rasulullah saw bersabda, “Hatilah-hatilah kalian terhadap prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya pembicaraan. Kalian jangan saling mengorek, saling memata-matai, saling bersaing, saling mendengki, saling bermusuhan, dan jangan saling berselisih. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang sudah diperintahkan kepada kalian. Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, tidak saling menzalimi dan mengkhianati, dan juga tidak menghinakannya. Takwa ada di sini, takwa ada di sini, takwa ada di sini.” Beliau menunjuk dadanya. “Jauhilah kejahatan menghinakan saudara Muslimnya. Setiap Muslim atas Muslim yang lain adalah terjaga harta, kehormatan dan darahnya.”[1]

Beliau saw juga bersabda, “Bukankah aku sudah sampaikan keutamaan derajat puasa, shalat dan sedekah?” Para sabahat menjawab, “Benar.” Nabi saw bersabda, “Ishlah di antara kerabat: jika rusak kekerabatan maka dia adalah kebinasaan. Aku tidak mengatakan binasa manusia, tetapi bianasa agama.”[2] Dan sebagaimana berupa hadis-hadis mulia dan ayat-ayat agung yang mendorong kepada persaudaraan dan kasih sayang, dan memperingatkan dari perpecahan dan perselisihan yang merupakan cobaan yang tidak akan hilang selamanya karena Nabi sendiripun bersabda, “Setelahku akan muncul para pembuat makar yang akan merusak urusan umat Muhammad. Siapa yang menemuinya maka bunuhlah dia jika dia dari golongan manusia.”[3]

Allah Swt berfirman, Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu. (QS. al-Anfal:1).

Nas-nas yang jelas ini, baik hadis maupun ayat-ayat al-Quran, mewajibkan semua kaum Muslim agar bersatu dan saling mengasihi, memperkuat rasa persaudaraan di antara mereka, hendaklah mereka menghilangkan semua urusan yang akan mengotori kesucian mereka, menjaga persatuan mereka, bekerja sama dalam ketakwaan dan kebaikan, saling mengasihi dan meyanyangi, saling mendekat dan saling menolong, tidak berburuk sangka di antara mereka, dan saling bertawadhu di antara mereka.

Hal ini berasal dari inti ajaran-ajaran Islam serta wasiat Ilahi, tidak keluar dan bukan merupakan tambahan darinya, tetapi dia adalah fondasi asasi dan tiang aslinya yang kewajibannya diletakkan di pundak seluruh kaum Muslim serta tanggung jawabnya berlaku bagi semuanya, mereka semua berkewajiban untuk merealisasikannya, tidak ada alasan bagi mereka untuk menghinari penjagaan dan perlindungannya, serta memeliharanya dari segala yang melemahkannya.

Adapun orang yang berusaha melemahkannya atau mencoba menyalakan fitnah di dalamnya atau mengingkarinya maka dia adalah seorang jahiliah sejahil-jahilnya, dan seorang fasis ekstrim, di bawah tutup apapun dan dengan jalan apapun, dia adalah seorang munafik, dan setan yang terkutuk, seperti yang diwartakan oleh ayat yang mulia  ini, Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS. at-Taubah:107).

Kalau kita merenungi penggalan ayat di atas mengenai memecah belah antara orang-orang mukmin, maka akan jelas bagi kita betapa besar dosa yang akan menimpa orang yang berusaha memecah belah kaum mukmin dan mencerai-beraikan barisan mereka, menghancurkan benteng persaudaraan mereka serta merusak persatuan dan keterikatan mereka.

Untuk menjelaskan kandungan persatuan dan kebersamaan sekaligus mengingatkan urgensi keduanya—dalam aspek ibadah dan muamalah—kita mendapatkan bahwa Islam telah menjadikan banyak festival ibadah dan syiarnya tidak akan sempurna pelaksanaannya kecuali dilakukan dengan berjamaah. Hal ini dimaksudkan sebagai penekanan urgensi persatuan yang memancar dari tauhid, dan untuk meneguhkan pentingnya persaudaraan di antara umat Islam, memperkokoh akar-akar kecintaan dan kasih di antara mereka, dan memperingatkan mereka akan kesatuan nasib dan perjalanan hidup mereka.

Cobalah perhatikan salat, rukun terbesar agama, fondasinya yang kuat, talinya yang kokoh, telah dijadikan Islam sebagai ibadah jamaah, di dalam pelaksanaannya kaum Muslim melakukan bersama-sama setiap hari sebanyak lima kali. Di dalam salat terbentuk jamaah-jamaah dan berjajar barisan-barisan di mesjid-mesjid. Begitu juga ibadah-ibadah yang lain, yang kaum Muslim berkumpul bersama-sama dari berbagai tempat, dan al-Quran menyinggung pelaksanaannya secara berjamaah dan karakternya adalah berjamaah. Allah Swt berfirman, Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang rukuk. (QS. al-Baqarah:43). Juga firman-Nya, Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu …. (QS. an-Nisa:102).

 

[1] Diriwayatkan oleh Malik, Bukhari dan Muslim, Abu Dawud, Turmudzi dari hadis Abu Hurairah.

[2] Diriwayatkan oleh Turmudzi dan menurutnya ini hadis shahih. Dan juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya dari hadis Abu Darda.

[3] Diriwayatkan oleh Muslim.

About adminislat1

Check Also

Rahasia Berdoa

” Apabila Alloh telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa alloh akan memberi kepadamu”. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *