Home / Universalia / Pandangan Dunia / Seri Pandangan Dunia : Mukadimah (Bag.1)

Seri Pandangan Dunia : Mukadimah (Bag.1)

Kesadaran adalah awal Pengetahuan
Dalam diri manusia segala sesuatu terpahami pasti di awali dengan proses mengafirmasi dirinya dan diluar dirinya kepada konsep “ada” melalui kesadaran dirinya. Orang yang tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya “ada” tidak akan mungkin dapat memahami sesuatu diluar dirinya. Proses memahami konsep-konsep yang berasal diluar dirinya adalah sesuatu yang bukan material sekalipun ditangkap melalui indra menjadi bentuk-bentuk abstrak. Semakin material sebuah objek, ia makin tidak dapat terpahami. Kesalahan manusia pada umumnya adalah menganggap yang materal sebagai tolak ukur sebuah kebenaran. Padahal diri kita sendiri (manusia) sesungguhnya adalah bukan material, terbukti karena kita hanya dapat memahami sesuatu dengan proses abstraksi yang tentu saja melalui pelucutan sifat-sifat material menjadi konsep-konsep universal. Dan karena universal, ia tidak memiliki bentuk, ukuran dan bobot. Hal ini dapat terjadi jika subjek penerimanya adalah bersifat non-material.

Ketika kita melakukan proses berfikir tentunya meniscayakan adanya objek yang difikirkan dan hal ini menghasilkan gagasan. Dengan sebuah cara tertentu akal kita melakukan pemilahan, pembagian dan merangkapnya dalam bentuk fikiran baru. Konsep-konsep inilah yang ada dalam benak kita yang membuat kita dapat memahami sesuatu yang kita sebut dengan “apa”. Satu-satunya media manusia untuk berhubungan dengan segala sesuatu yang berada diluar dirikita adalah melalui proses berfikir ini yang berujung pada pernyataan “apa”. proses berfikir ini tidak mungkin terjadi tanpa kesadaran kesadaran diri yang melakukan aktifitas berfikir, inilah yang disebut kesadaran eksistensi.

Kesadaran adalah Kaidah Swabukti

Kesadaran eksistensi ini adalah kaidah yang swabukti yang dengannya manusia mengidentifikasikan dirinya dan segala sesuatu yang berada diluar dirinya. Objek-objek material dan non-material ini teridentifikasi karena konsep “ada” hadir didalamnya, sehingga dengan “ada” tersebut, maka muncullah pernyataan “apa”. Manusia, karena begitu beragamnya objek-objek material yang masuk kedalam dirinya melalui ‘”apa” ini tadi, menggerus kesadaran “ada” manusia sehingga seolah-olah manusia mengira yang bersifat hakiki adalah “apa”, padahal “apa” ini tadi tidak mungkin dapat di ketahui atau di pahami kalau tidak “ada”. Kenapa “apa” ini muncul seolah-olah lebih dominan?, sebenarnya hal ini bukanlah karena “apa” ini yang bersifat hakiki melainkan karena “apa” sesungguhnya hanyalah batas-batas dari “ada”. Intinya, “apa’ tidak mungkin dapat diketahui kalau tidak ‘ada”.

Celakanya lagi, “apa” yang bukan hakiki ini direkduksi lagi menjadi segala sesuatu yang bersifat materi. Sehingga yang di anggap ‘ada” hanyalah yang bersifat materi dan selainnya bukan “apa-apa”, dan karena bukan “apa-apa” dia tidak ‘ada”. Dari sinilah muncul padangan materialisme, kapitalisme dan isme-isme yang kembalinya pada dunia ‘”apa”. Lebih khusus lagi, materi kembali pada seagala sesuatu yang individual, tujuan dari pemikiran ini adalah memposisikan setiap entitas sebagai individu-individu yang bertarung untuk mempertahankan eksistensi/’adanya” melalui identifikasi “apa”. Dari sini juga munculnya penolakan pada hal-hal spritual. Penjelasan pembuka ini merupakan mukadimah untuk mencapai kesadaran eksistensi.

About admin

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *