Home / Universalia / Pandangan Dunia / Seri Pandangan Dunia : Pengetahuan Manusia

Seri Pandangan Dunia : Pengetahuan Manusia

Asal mula Gagasan
Setiap fikiran-fikiran yang ada dalam benak manusia sebenarnya hampir sebagian besar memiliki gagasan yang sama. Karena fikiran-fikiran ini seperti Operating system yang menjadi basis sebuah program komputer, yang setiap programnya tunduk pada kaidah-kaidah operating system yang jika operating sytem ini dipertanyakan, maka keseluruhan program komputer ini akan bermasalah. Inilah analogi yang merujuk pada sistem berfikir manusia yang silsilahnya berujung pada sebuah gagasan akhir yang tidak bisa dipertanyakan lagi karena sangat jelasnya. Inilah yang disebut gagasan SWABUKTI, atau benar dengan sendirinya.

Kata “mengapa” untuk sebuah premis hanya bisa ditanya kepada premis yang berada dibawah level SWABUKTI. Karena “mengapa” sebenarnya ditujukan untuk sebuah gagasan yang masih membutuhkan penjelasan. Semakin jauh dari level apriorinya, maka semakin membutuhkan banyak pertanyaan untuk mengetahui kejelasan. Makin dekat dengan level apriori, maka semakin tidak membutuhkkan penjelasan. Dan hal ini terinstal secara natural dalam diri manusia. Siapapun yang disebut manusia pada level ini semuanya sama.

Gagasan apriori ini bahkan dapat melahirkan fikiran-fikiran baru seperti etika, matematika, fisika, adalah fikiran-fikiran yang lahir dari gagasan ini. gagasan apriori ini merupakan gagasan rasional dan fakta material. Gagasan rasional adalah pernyataan-pernyataan swabukti seperti gagasan “sesuatu pastilah sesuatu “ Contoh dari fakta material adalah seperti pernyataan “ada sebuah negara bernama indonesia”. Setiap fikiran yang muncul berdasarkan prinsip deduksi haruslah kembali pada gagasan-gagasan swabukti ini.

Kesatuan Pemikir Dan Objek Fikiran

Maksud dari pernyataan “mengetahui” adalah menyatunya apa yang berada dalam benak dengan kenyataan yang berada diluar benak. Subjek menyatu dengan objek, ada yang mengetahui, ada yang diketahui maka lahirlah “Pengetahuan”. Dan untuk merefleksikan kejadian “mengetahui” ini manusia membutuhkan “kata” untuk menjelaskan makna. Dalam kejadiannya sesungguhnya makna mendahului kata, karena kata hanyalah refleksi dari fikiran yang memancarkan makna-makna.

Selama ini kita memaknai pengetahuan adalah memindahkan sesuatu yang berada diluar kedalam benak. Padahal ada dua jenis pengetahuan manusia yakni pengetahuan mengenai “apa” dan pengetahuan mengenai “ada”. Pengetahuan tentang “apa” ini harus dimulai dari kategori-kategori aksidental (dampak-dampak). Jadi ada tiga hal disini ada subjek yang mengetahui, ada perantara (yakni objek) dan konsep yang di tangkap melaui gambaran-gambaran yang diketahui. Pengetahuan mengenai “ada” tidak membutuhkan tigal hal yang disebutkan sebelumnya. Dari sini dibuktikan bahwa gambaran-gambaran “apa” ini bergantung pada “ada”.

Pengetahuan tentang realitas diri yang mengetahui

Pengetahuan tetang diri kita adalah jenis pengetahuan yang tidak membutuhkan gambaran-gambaran “apa’. disIni dibuktikan bahwa gambaran-gambaran tentang apa ini membutuhkan realitas diri sebagai tempat bersemayamnya pengetahuan tentang ‘apa”. Dan realitaas diri ini berganung pada kesadaran “ada”. Pengetahuan tentang “apa-apa” tidak akan berharti jika tidak berakhir pada pengetahuan tentang “ada”.

“Apa” adalah segala sesuatu yang ada dialam yang luas ini. kebanyakan orang yang titdak memiliki kesadaran “ada” malah mengira bahwa apa-apa yang ada di alam ini sebagai yang “ada”. Setelah memahami ada, barulah kita dapat mengetahui “apa” dengan benar. Dari pengetahuan inilah kita akan membuka jalan untuk mencapai kebijaksanaan yang utama.

Pengetahuan tentang “apa” adalah Pengetahuan tentang sesuatu yang di ketahui

Pengetahuan-pengetahuan dari gambaran-gamabaran “apa” bukanlah hakikat dari dari “apa” itu sendiri melainkan gambaran ideal dari “apa” yang dilucuti dari alam material ke alam konseptual (makna). Selain pengetahuan konseptual (makna) ada juga pengetahuan yang sama sekali tidak membutuhkan konsep yaitu pengetahuan yang tidak memiliki batats karena kedekatanya dengan “ada’, contoh pengetahuan mengenai “gambar” dari gambaran atau “garis” dari “garis”. Jadi sebenarnya pengeatahuan yang tidak memiliki batasan ini adalah pengetahuan yang benar dengan sendirinya atau apriori atau bisa disebut juga pengetahuan primer.

Pengetahuan primer

Pengetahuan primer adalah pengetahuan yang menjadi basis dari seluruh pengetahuan contohnya pengetahuan mengenai konsep “ada” dan “tiada”,

About admin

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *