Home / Featured / Sosio-historikal Teologis Islam Nusantara

Sosio-historikal Teologis Islam Nusantara

Tinjauan Sosiohistoris

 

Fakta-fakta Islam di Indonesia

Sebagaimana kita bisa baca dari sejarah, penyebaran Islam telah terjadi sejak Rasulullah saw masih hidup, dengan mengirimkan para utusannya ke berbagai wilayah Arab maupun luar Arab. Penyebaran Islam ini tidak selamanya dengan jalan damai sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw namun juga dengan jalan perang. Lagi-lagi kembali kepada relatifitas sahabat dan tabi’in dalam memahami Islam yang dibawa oleh Sang Nabi. Tidak hanya dengan tinta dan pena, namun juga dengan noda dan darah.

Sebagaimana dialami oleh negeri-negeri terjauh seperti Cordoba, Spanyol, yang melahirkan dendam kepada islam sehingga menjadi pemberangusan muslim saat perang Salib dan setelahnya. Sebagai akibat logis dari penyebaran Islam yang ekspansif dan koersif. Perang ini tidaklah menggambarkan Islam sebagaimana mestinya sehingga umat lain memandang Islam dari perilaku pemeluknya.

Di sisi lain, sebagian umat Islam justru bangga dengan ‘kemenangan’ dan ‘penaklukan’ wilayah-wilayah pada masa Bani Umayyah, ‘Abbasiyyah dan Utsmaniyyah dengan landasan sistem kekhilafahan yang sesungguhnya telah menjadi sistem dinasti.

Berbeda dengan Islam yang datang di Timur Tengah dan wilayah aneksasi periode Bani Umayyah, Abbasiyyah, dan Utsmaniyyah, Islam di Indonesia menyebar dengan tangan dingin para pendakwahnya, yang rata-rata memiliki ‘skill’ individu gemilang dalam menawan hati penduduk asli negeri ini yang sebelumnya memeluk kepercayaan Dinamisme, Animisme, Hindu, Budha dan aliran kepercayaan lainnya.

Indonesia adalah negara unik yang tidak bisa disamakan dengan negara-negara Arab yang saat ini menjadi ajang konflik politik bernuansa sektarian. Berikut fakta fakta unik tersebut ;

Fakta pertama
Menurut banyak sejarawan, Islam yang pertama kali diperkenalkan di Nusantara adalah Islam mistik melalui para pendakwah dari Gujarat dan Cina.

Fakta ini memperkuat teori yang menyebutkan bahwa Islam yang masuk ke India adalah pendakwah Persia Arya yang mempengaruhi pola keberagamaan Muslim India yang sebelumnya beragama Hindu.

Setelah melewati proses adaptasi, verifikasi dan akulturasi di India, Islam tampil dengan ciri esoterik dan nuansa kultur lokal Persa-India. Dan terbentuk komunitas-komunitas Muslim di anak benua India (meliputi Pakistan dan Bangladesh) lalu menyebar ke Srilanka, Maladewa, hingga Asia Tenggara.

Saudagar-saudagar muda, tampan dan santun berbahasa Arab dengan dialek Persia dan India memasuki wilayah Nusantara yang pada saat itu dikuasai beberapa kerajaan. Karena terpesona oleh kesantunan dan prilaku esoteris, para saudagar itu jadi pusat kerumunan dan konsultan agama bahkan jadi seniman gemelan dan sebagainya. Tidak hanya itu, para bangsawan dan raja juga ingin mengawinkan mereka dengan putrinya dengan para saudagar relijius itu.

Selama beberapa waktu tidak terlalu lama, Islam menjadi primadona, dan akhirnya Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Ringkasan fakta pertama, Islam yang pertama kali adalah tasawuf.
Fakta kedua:
Islam masuk ke Nusantara dengan penyadaran dan adaptasi budaya lokal, bukan melalui ekspansi dan agresi militer.

Tercatat dalam sejarah, dinasti Umayah dan Abbasiyah, yang dianggap sebagai representasi kekuasaan Islam, menyebarkan Islam dengan aneksasi dan penaklukan. Hampir seluruh kawasan yang kini disebut kawasan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara ditaklukkan secara militer.

Tak satu tetes pun darah menodai lembar sejarah dakwah Islam di Nusantara. Ringkasan fakta kedua, Islam Indonesia berwatak santun, toleran, tidak doktrinal tapi berbasis kesadaran.

Fakta ketiga:
Islam pertama kali diperkenalkan di Nusantara oleh para pedagang dan pendakwah sufi dari kawasan non-Arab, yaitu Persia, India dan Cina. Ini menjadi penjelas bahwa Islam diterima oleh masyarakat Nusantara bukan karena ke-araban tapi karena dipandang sebagai agama yang tidak memberangus jati diri dan kultur lokal masyarakat. Tidak mengherankan Islam bisa diterima bukan hanya di pulau Jawa tapi di hampir seluruh pulau Nusantara, Sumatera, Kalimantan, Maluku hingga pulau-pulau terpencil. Islam bisa hadir dalam ragam budaya dan tradisi lokal setiap suku dan daerah, seperti Grebeg Suro di Jawa, upacara Tabuik di Padang dan Bengkulu, dan tari Saman di Aceh.

Ringkasan fakta ketiga: Islam Indonesia adalah substansi wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan dikemas dengan corak lokal yang harmonis dengan jati diri dan identitas kenusantaraan.

Fakta keempat
Islam yang pertama kali diperdengarkan di Nusantara ditandai dengan angka sakti: lima. Di surau-surau kawasan Pasundan, di langgar kuno di pelosok Jawa Tengah, di pondok-pondok kawasan pesisir Jawa, mulai Cirebon hingga Banyuwangi, di masjid-masjid Batavia hingga luar Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga pedalaman Halmahera, suara-suara merdu mengangkasa melantunkan pujian dan ungkapan cinta kepada jejiwa lima; Li Khomsatun dan Shallallah ‘ala Thaha mematri relung hati dengan nama Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Angka lima adalah simbol peradaban Islam Indonesia. Dari situlah Pancasila dilahirkan. Sila pertama mencerminkan keluasan horison universalitas kebertuhanan. Empat sila setelahnya adalah manifes-manifesnya. Muhammad adalah manifestasi Tauhid dan empat jejiwa suci setelahnya adalah manifesnya. Itulah Al-‘Urwah Al-Wutsqâ yang sejak dulu hingga saat ini menjadi prasasti kesaktian dan kesakralan dalam sejarah Indonesia.

Setelah fase Islam esoteris berakhir, Islam kedua kali dibawa oleh para pendakwah dari Hadramaut, Yaman. Mereka adalah para sufi amali yang datang mengajarkan tasawuf praktis dan fikih Syafi’i.

Para sufi dari Hadramaut itu seakan mendapatkan lahan pendaratan yang mulus karena tradisi sufi Persia yang berpuncak pada ajaran Ahlul Bait Nabi. Hal itu karena para pendakwah itu juga membawa nama Ahlul Bait. Mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai habib dan syarif, keturunan Nabi Saw.

Selanjutnya Islam yang merebak di Nusantara bernuansa sufi dengan akidah Asy’ari dan fikih Syafi’i di bawah bimbingan para habib dan syarif yang sangat dihormati karena jiwa egaliter dan pola lakunya yang santun. Dari para habib itu lahirlah kyai-kyai besar yang secara turun temurun mengawal Islam Sunni dengan coraknya yang khas.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang didirikan sebagai benteng yang memelihara Islam Sunni yang orisinal itu. Pesantren-pesantren salafi yang didirikan oleh para ulama yang menjaga tradisi Islam khas lokal ini adalah khazanah peradaban Islam yang saat ini sedang menghadapi dua tantangan serius, yaitu liberalisme dan literalisme.

Kelompok intoleran yang menganut skripturalisme tidak melakukan agresi dan pembusukan secara langsung terhadap Sunni Asy’ari, yang direpresentasi oleh NU, namun melakukannya dengan tiga macam cara; 1.) Melemahkannya melalui pengambilalihan masjid dan langgar yang secara temurun menjadi basis sosial keagamaan NU. 2.) Menggunting jalur koordinasi PBNU dengan cabang-cabangnya terutama di Jawa Timur dengan beragam modus. 3.) Melakukan kampanye intensif dengan mencatut nama Ahlus Sunnah (yang selama berabad-abad identik dengan Akidah Asy’ariyah) dan membajak atribut “Salaf” (yang senantiasa menghiasi papan nama pesantren-pesantren berbasis Sunni Asy’ari) di seluruh wilayah Jawa.

Skripturalisme hanya akan melakukan agresi tidak langsung di wilayah santri, terutama wilayah pesisir Jawa karena sejumlah faktor;

Pertama: Wilayah pesisir Jawa terutama Jawa Timur yang dikenal dengan wilayah Tapal Kuda didominasi oleh masyarakat santri, sebagaimana disebutkan dalam teori Clifford Geertz.

Kedua : Secara sosial, masyarakat santri memang hidup sebagai santri baik secara sosial maupun pendidikan. Santri umum adalah orang yang hidup secara sosial sebagai santri. Umumnya mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan agamawan (kyai). Pola kehidupan mereka pun cenderung nyantri seperti mengenakan sarung, peci dan baju koko. Santri umum adalah mantan santri pendidikan, yang telah berumahtangga dan menjalani ragam profesi. Sedangkan santri pelajar adalah orang yang mengenyam pendidikan di lembaga tradisional keagamaan dari jenjang dasar hingga jenjang terakhir. Santri khusus kadang tidak hanya mendalami ilmu agama di pesantren, namun juga menjadi khadim atau relawan yang melayani keluarga kyai atau santri muda. Bila telah menyelesaikan jenjang pendidikan terakhir, ia menjadi pengajar di pesantren almamaternya. Bila telah lama mengabdi dan dianggap mumpuni, kyai pemimpin pesantren menyarankannya untuk membuka pesantren sendiri di wilayah lain.

Ketiga: Pola interaksi dan komunikasi masyarakat santri (santri umum) dengan santri khusus terutama kyai cenderung vertikal (buttom up). Penghormatan temurun dalam pola hubungan sosial inilah yang dapat dianggap sebagai kendala sosial masuknya skripturalisme.

Masyarakat santri dengan dua pola kesantrian ini secara sosial sulit sekali menerima ajakan pola komunikasi setara yang menjadi salah satu ciri khas kelompok skriptural yang secara sosial tidak punya basis massa di wilayah itu. Dengan kata lain, skripturalisme tidak akan mudah menemukan basis sosialnya di wilayah pesisir.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, secara kultural, masyarakat santri yang menempati wilayah pesisir adalah komunitas yang terbentuk dari warisan tradisi dan budaya keagamaan dari para pendakwah yang datang dari Persia, India dan Cina. Islam yang masuk dan diterima di Nusantara adalah Islam yang telah mengalami proses lokalisasi dan akulturasi serta akomodasi budaya Timur. Masyarakat Nusantara, terutama Jawa, sebelum memeluk Islam, adalah masyarakat yang secara kultural menganut Hinduisme dan Dinamisme, yang memiliki kesamaan dalam aspek esoterik. Karena kesamaan dan kemiripan dalam aspek mistik dan esoterik inilah, Islam yang dibawa oleh para pendakwah dari wilayah yang didominasi oleh kultur Islam sinkretis atau terwarnai oleh Hinduisme, Budhisme dan Zoroasterianisme, masyarakat Jawa bisa menerimanya. Para Sunan sukses menyebarkan Islam karena pola akomodasi dan penghargaannya terhadap budaya lokal masyarakat Nusantara. Tidak sedikit pendakwah yang dinobatkan sebagai pejabat bahkan putra mahkota.

Skriptualisme dan Anti Kultur Lokal

Skripturalisme Islam yang merupakan produk asli wilayah Arab setelah runtuhnya Pemerintahan para syarif di Hijaz dan jatuhnya Dinasti Ottoman, tidak memiliki latar belakang budaya yang harmonis dengan identitas dan tradisi masyarakat Jawa terutama pesisir. Malah karena pola keberagamaanya yang skriptural dan berwatak Arab, Islam skriptural mengangkat jargon pembasmian terhadap budaya yang dinilainya bertentangan dengan Islam yang dipahaminya secara skriptural dan sebagai agama anti klenik dan khurafat.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan ialah, masyarakat Jawa terutama masyarakat santri terbentuk oleh esoterisme Islam, yang dikenal dengan tasawuf. Sebagaimana diketahui dan tak dapat dibantah, tasawuf adalah produk Islam di luar tanah Arab, yaitu Persia. Lebih tepatnya lagi, tasawuf adalah warisan pemikiran Islam yang diidentikkan dengan keluarga Nabi yang sepanjang sejarah lebih diterima oleh masyarakat non-Arab. Manunggaling Kawula Gusti, yang hingga sekarang masih dipelihara dalam tradisi tasawuf, bisa dipastikan terkait dengan ajaran batin para pendakwah dari Persia dan Gujarat, yang datang ke Indonesia dengan memperkenalkan sejarah keluarga Nabi, terutama Ali, Siti Fatimah, Hasan dan Husain.

Skripturalisme Islam yang datang belakangan dari Saudi yang telah dikuasai oleh klan Saud yang berkolaborasi dengan Muhammad bin Abdul Wahab telah mendeklarasikan sebagai Islam yang menentang penghormatan kepada keluarga Nabi, bahkan sebagian pengikutnya menafikan fakta keberadaaan anak keturunan Nabi Saw. Inilah yang juga dapat dianggap sebagai kendala kultural bagi masuknya Islam skriptural ke wilayah pesisir Jawa.

Secara emosional, masyarakat santri memiliki hubungan emosional dengan keluarga Nabi dan tradisi penghormatan yang diekspresikan melalui upacara-upacara seperti Maulid, Haul dan lainnya.

Penghormatan kepada keluarga Nabi dalam masyarakat santri berlanjut hingga perlakukan khusus kepada siapa saja yang diyakini sebagai keturunan Nabi. Karena itu pula, tidak mengherankan bila pahlawan Indonesia seperti Pangeran Diponegoro dan lainnya diyakini sebagai seorang Sayyidin Panotogomo. Kesultanan Yogjakarta dan Kraton Solo juga disebut-sebut memiliki hubungan genetik dengan Rasulullah, sebagaimana disebutkan dalam buku-buku sejarah. Bahkan sejumlah ulama besar seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Kholil Bangkalan, K.H. Bisri Mustofa dan lainnya diyakini sebagai dzurriyah dari marga Bin Sahal dan Azhamat Khan.

Dengan kata lain, skripturalisme yang lahir dari konflik dan identik dengan sinisme terhadap para asyrâf di Hijaz tidak hanya tidak diterima namun ditentang karena dianggap sebagai bahaya yang mengancam identitas dan pusaka budaya lokal.

Secara teologis, masyarakat santri adalah komunitas yang menganut Islam mazhab Sunni dengan teologi Asy’ariah. Mazhab kalam yang dinisbatkan pada Abul Hasan Al-Asy’ari ini dibangun karena menolak rasionalisme ekstrem Mu’tazilah dan skripturalisme ekstrem Ahlul Hadits (yang kelak dikenal dengan Salafi). Teologi Asy’ariyah tidak jarang menjadi sasaran kritik bahkan hujatan dari para penganut Ahlul Hadits. Konflik berdarah seputar Kalam Allah antar dua pengikut dalam sejarah adalah bukti dikotomi dua mazhab teologi ini.

Belakangan PBNU mulai merasakan pentingnya mengantisipasi pola keberagamaan skriptural ini yang dikhawatirkan menganggu tatanan sosial keagamaan yang telah terbentuk sejak lama akibat ekspansi intensif kelompok skriptural intoleran ini.
Tinjauan Teologis

 

Koalisi Iman dan Amal

Hablum minallah atau hubungan dengan Allah merupakan bentuk relasi vertikal. Sementara hablum minannas atau hubungan dengan manusia adalah relasi horizontal. Sebuah artikel menarik berjudul ‘Taqarrub kepada Allah dan Manusia’ mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya umat Islam dalam bersikap.

Renungan itu dimulai dengan kutipan hadis yang berisi dialog Allah dan Rasulullah. Rasulullah saw bersabda, “Pada Hari Kiamat nanti Allah Swt akan menegur kita, ‘Wahai anak cucu Adam, Aku sakit, mengapa engkau tak menjenguk-Ku?’ Hamba bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ Allah pun menjawabnya, ‘Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit dan kamu tidak membesuknya.’”

Dialog itu pun berlanjut. “Wahai anak cucu Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku makan?” Hamba bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan memberi-Mu makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab lagi, “Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang kelaparan dan kamu tidak memberinya makan.”
“Wahai anak cucu Adam, Aku meminta minum kepadamu, mengapa engkau tidak memberi-Ku minum?” Hamba bertanya lagi, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku akan memberi-Mu minum, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab, “Kamu tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang kehausan dan kamu tidak memberinya minum.” (HR Muslim).

Dalam hadis tersebut, tergambar jelas bagaimana Allah sendiri yang mengajarkan pentingnya menjaga hubungan horizontal sesama manusia. Demikian pula pada firman-firman-Nya yang selalu menyandingkan antara aspek iman sebagai kunci hubungan vertikal, dengan aspek amal saleh pada hubungan horizontal. Perintah shalat, misalnya, hampir selalu dirangkaikan dengan perintah berzakat.
QS. al-Baqarah: 43 Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.
Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan di antara kedua bentuk relasi itu. Dalam firman-firman-Nya yang lain, Allah juga banyak menekankan tentang dekatnya keimanan dan amal saleh. Bahkan, setidaknya, 71 kali Allah menekankan (dengan segala varian perubahannya) pentingnya melakukan kedua hal itu sekaligus.

Di antara firman Allah yang paling familiar terkait hal ini, misalnya, QS. al-Ashr (1-3): Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dengan kebenaran dan saling menasehati dengan kesabaran.

Tidak hanya menggambarkan pentingnya saling melengkapi antara iman dan amal saleh, firman Allah itu juga menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam berdakwah bukan hanya menasihati ihwal kebenaran, melainkan juga dengan kesabaran. “Takfiri” (yang dewasa ini menggejala secara sosial sedemikian memprihatinkan karena faktanya kebanyakan darinya berujung pada pembunuhan dan pembantaian tanpa dasar) bukanlah bentuk yang kesabaran dalam berdakwah.

Dimensi Relasi Manusia
Amal saleh seseorang sendiri amat dipengaruhi kadar imannya. Iman secara etimologis berarti “percaya”. Perkataan iman diambil dari kata kerja amana – yu’minu, yang berarti “percaya” atau “membenarkan”. Kata “iman” serumpun dengan aman dan amanah, sehingga etimologinya secara lengkap adalah “keyakinan yang menimbulkan rasa aman bagi yang meyakini dan memberikan rasa aman bagi pihak lain”.

Iman secara terminologis adalah produk yang lahir dari relasi subjek dan objek. Relasi ini memiliki dua bentuk. Pertama, relasi subjek-objek melalui korespondensi yang disebut pengetahuan atau lebih khusus lagi, persepsi rasional. Kedua, relasi subjek-objek melalui iluminasi, yang disebut kesadaran atau persepsi intuisional.

Pengetahuan yang berkarakter rasional dan kesadaran yang berciri intuisional merupakan dua aspek kepercayaan atau iman setiap insan. Secara umum, semua persepsi pada mulanya terdiri dari dua kategori, dilihat dari proses kemunculannya. Pengetahuan adalah gambaran tentang sesuatu yang dicandra jiwa lewat salah satu pancaindera eksoterik (fisik). Kesadaran adalah sesuatu hadir dalam diri atau diketahui lewat kehadiran tanpa mediasi apapun. Ini juga lumrah diistilahkan dengan kesadaran eksistensial.

Umat dan Bangsa

Dalam bahasa Arab, tersedia dua kata yang seolah mirip, yaitu ummah (umat) dan sya’b, yang tentu saja perlu dibedakan lantaran memuat konten yang memang berbeda satu sama lain. Sya’b dan qaum berarti sekumpulan manusia yang memiliki kepentingan temporal untuk mempertahankan kesamaan dalam sebuah sistem pemerintahan yang disepakati seraya menghargai keragaman etnis, budaya, dan bahasa di dalamnya. Selama ini, kedua status itu dipukul rata, padahal masing-masing berbeda pengertian. Perbedaan tersebut digambarkan dalam al-Quran dengan sifatnya masing-masing. Tentang kaum atau warga, misalnya, dapat ditemukan dalam firman Allah (QS. al-Hujurat: 13):
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Ayat tersebut menggambarkan dua bentuk relasi sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya: relasi antar manusia dan relasi manusia dengan Allah. Terkait dengan “warga” dalam ayat tersebut, di bagian awal, ditegaskan bahwa Allah sendiri yang telah menjadikan manusia “berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”. Artinya, Allah sendiri telah mengkonfirmasi perihal suku bangsa yang beragam. Karena itu pula, al-Quran sendiri mengakui keberadaan pemimpin suku-suku dan bangsa-bangsa tersebut. Kesukuan, kebangsaan, dan kewargaan niscaya majemuk.

Hal ini sangat berbeda dengan konsep umat yang digambarkan ayat suci al-Quran lainnya. Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan tentang umat dalam QS. al-Anbiya ayat ke-92”
Sesungguhnya inilah umatmu umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu maka sembahlah Aku.
Berbanding terbalik dengan “kaum” yang niscaya beragam dan terbagi dalam berbagai suku bangsa, “umat” justru digambarkan sebagai entitas yang satu. Karenanya sangat wajar jika jenis kepemimpinan yang ada juga berbeda meski orang-orang yang dipimpinnya sama saja.

Itulah sebabnya, terdapat ungkapan “kaum Musa”, “kaum Nuh”, dan sejenisnya. Peran dan area kepemimpinan masing-masing nabi memang berbeda. Namun, umat Islam sejak Nabi Muhammad saw diutus tidak lagi disebut kaum Muhammad karena area kepemimpinan beliau bersifat universal yang menerjang batas-batas kekauman. Mereka disebut umat Muhammad (ummatu Muhammad). Meski demikian, nampaknya itu tidak otomatis menghilangkan kekauman (nationality) setiap Muslim. Kata sya’b (bangsa) juga memiliki cakupan yang lebih minor dari umat. Karenanya, dalam bahasa Arab, ungkapan ‘asy-sya’b al-Islami’ tidak lazim. Dengan begitu, penggunaan istilah ‘Islamic Nation’ atau ‘Nation of Islam’ terasa dipaksakan.

Ketidakmampuan melihat perbedaan status inilah yang mengaburkan visi umat Islam. Mereka yang hanya melihat penganut agama Islam dari segi kewargaan cenderung bersikap abai terhadap sesama umat Islam hanya karena merasa berbeda suku bangsa. Derita saudara-saudara sesama muslim diabaikan dengan anggapan bahwa persoalan tersebut sepenuhnya urusan negara masing-masing. Akibatnya, penderitaan yang dialami umat Islam di Gaza, misalnya, bagi mereka hanyalah urusan pribadi Palestina dan “Israel” yang tak punya hubungan dengan muslim dan muslimah di luar wilayah tersebut.

Sebaliknya, kalangan yang hanya memandang Islam dari kesatuan sebagaimana yang dipahami dari konsep umat, akan sibuk menyatukan seluruh penganut Islam dalam satu komunitas. Bukan hanya kepemimpinan yang menurutnya harus muslim, tapi sistem di negara tempanya tinggal juga harus menerapkan sistem islami, tanpa mempedulikan kearifan lokal masing-masing wilayah. Kehendak memaksakan penyatuan ini (bagi yang melakukan secara paksa) alih-alih melahirkan kesatuan umat, yang terjadi justru umat terpecah belah. Sebab, sebenarnya, di samping adanya pemahaman bahwa umat Islam itu hakikatnya satu, mereka juga meyakini bahwa yang satu itu adalah komunitas mereka sendiri.

Untuk itu, keseimbangan di antara dua status ini sangatah penting. Hanya dengan memahami keseimbangan ini, umat Islam dapat hidup harmonis dengan pihak lain sebagai warga negara. Namun, bagi yang memahami keseimbangan ini, harmoni bukan bermakna menutup mata terhadap saudara-saudaranya sesama umat Islam yang mengalami penderitaan di luar suku dan bangsa mereka. Karena, mereka juga harus menyadari adanya aspek kesatuan seluruh umat. Dengan cara inilah, Islam dan nasionalisme diharapkan dapat seiring sejalan.

Dalam al-Quran, surah Yunus ayat ke-19, misalnya, Allah mengarakterisasi umat (ummah satu akar kata dengan imam dan imamah) sebagai sesuatu yang tunggal. Sedangkan dalam ayat lain, bangsa (sya’b) disebutkan dalam bentuk plural (syu’ub). Hal ini mengindikasikan bahwa ummah bersifat universal, sementara syu’ub lebih spesifik yang tidak mesti dipimpin keimamahan. Adanya kelompok yang ingin mengembalikan kekhilafahan di masa lalu di tengah umat Islam menjadi tidak tepat sasaran, karena khalifah bersifat presidensial dan teritorial.

 

Universal dan Lokal

Sebagaimana kekaburan antara status umat dan warga, ketidakharmonisan antara kedua status tersebut juga berdampak pada semrawutnya sistem yang diajukan. Satu pihak menginginkan sistem yang bukan saja total Islam, namun juga berkarakter universal yang melampaui batas-batas teritorial. Ya, seperti sempat disinggung sebelumnya, perjuangan yang menyasar universalitas pemeritahan Islam ini di antaranya adalah Gerakan Khilafah yang bertujuan membentuk Negara Islam.

Di pihak lain, kalangan yang digambarkan hanya mengenal umat Islam sebagai warga dan mengabaikan prinsip keumatan yang mengandaikan kesatuan juga tak kalah ekstrim. Bagi mereka, masalah agama dan negara lebih dari sekadar perbedaan wilayah: keduanya sama sekali harus terpisah. Agama adalah urusan dan ruang privat, sementara negara adalah urusan dan ruang publik. Karena itu, kelompok yang umum disebut sebagai Gerakan Sekularisme ini terkesan alergi terhadap segala hal yang berbau agama, kendati mereka sendiri lahir dan tumbuh dewasa dalam tradisi Islam.

Keseimbangan ini seharusnya terbangun dengan baik seraya tidak terbawa salah satu arus yang terlanjur bias. Aspek agama dan negara dalam suatu sistem memang berbeda dan terpisah satu sama lain. Namun, hal ini tidak meniscayakan putusnya hubungan keduanya dalam bentuk apapun. Pemisahan kedua aspek ini tidak berarti keduanya tidak dapat saling berdialog dan saling dukung dalam membangun dan mengembangkan secara timbal balik.

Bagaimana pun, peran negara sangat dibutuhkan dalam menjamin ketenangan beribadah seluruh umat beragama yang hidup di dalamnya. Sebagaimana pula negara membutuhkan umat beragama untuk menjaga keutuhan negara berdasarkan ajaran-ajaran yang diyakini mereka, khususnya yang terkait dengan persatuan dan kesatuan yang inheren dalam semua agama.

Demikian pula dengan kalangan yang memperjuangkan Negara Islam. Negara dengan sistem seperti apa yang ditawarkan? Apakah ukuran keislamannya terletak pada kuantitas atau kualitas? Jika ukurannya kuantitas, maka bukan hanya negara-negara di Timur Tengah (yang selama ini jadi ikon Islam) yang disebut Negara Islam, Indonesia dan Malaysia di Asia Tenggara juga termasuk Negara Islam lantaran dihuni mayoritas muslim. Indonesia bahkan diakui sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Jika tolok ukurnya adalah kualitas, lantas apa yang dijadikan kriteria? Wahyu? Bila Islam adalah wahyu yang otentik kemudian diturunkan sebagai sistem pemerintahan, maka persoalannya selesai sampai di sini. Namun, kenyataannya, Islam yang dipahami selama ini bukan wahyu, melainkan interpretasi tentang wahyu. Wahyu dan interpretasi tentu saja berbeda. Karena itu, interpretasi wahyu sebagai dasar negara tidak dapat disamakan dengan wahyu sebagai dasar negara. Jangankan diturunkan dalam bentuk sistem pemerintahan, dalam sistem peribadatan saja terdapat puluhan sampai ratusan tafsir yang berbeda yang hanya berkenaan dengan satu persoalan spesifik yang sama.

Negara-negara yang sering dianggap negara Islam tidak menggunakan wahyu dalam konstitusinya, melainkan interpretasi yang diturunkan dalam bentuk sistem pemerintahan. Republik Islami Iran, misalnya, juga tidak sepenuhnya menggunakan wahyu. Konstitusinya disimpulkan dari interpretasi atau tafsir, yang kemudian diintrodusir dalam konstitusi dan menjadi legal karena adanya pemilihan umum. Konstitusinya akhirnya bukan seperti Negara Islam yang dibayangkan, melainkan negara yang berdasarkan konstitusi republik yang disarikan dari sumber Islam. Sehingga, terjemahan yang lebih tepat untuk bahasa Arab al-Jumhuriyah Islamiah fi Iran, tampaknya bukanlah Republik Islam Iran, melainkan Republik Islami Iran. Islam hanyalah sifat yang mewarnai konstitusinya, itupun setelah melewati kesepakatan mayoritas warganya melalui referendum.

Dalam konteks inipun, Indonesia juga dapat dikategorikan sebagai negara Islam. Kenapa? Karena asas negara Indonesia adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sebagaimana maktub dalam Pancasila yang dikutip Preambule UUD 1945 sebagai konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sila pertama Pancasila itu jelas-jelas ajaran tauhid, dan tauhid adalah kunci syariat Islam.

Jadi, sebetulnya, kalaupun ngotot ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam, cukup tambahkan saja ke dalam frasanya menjadi Negara Kesatuan Republik Islami Indonesia. Selain dari itu, tak ada lagi yang perlu diubah. Toh dasar negaranya sudah sesuai dengan syariat Islam karena terkait Ketuhanan yang Maha Esa. Maka dari itu, jika seseorang tidak bertuhan, maka seyogianya ia kehilangan kewarganegaraannya, karena asas negaranya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Namun, terkait perilaku kehidupan sehari-hari berupa etika pergaulan, yang dikedepankan tentu adalah etika yang disepakati semua agama. Iran pada kenyataannya juga seperti itu. Ini bukan berarti sebuah negara yang dibangun dengan dasar islami tidak bakal atau terlarang dihuni kalangan non-muslim. Di sana, agama-agama non-islam tetap eksis, bahkan tempat peribadatannya dibangun dan dilindungi undang-undang.

 

Kesimpulan:

Mengamalkan ajaran universal, transeden, sakral dan abstrak meniscayakan aktualisasi partikular, immanen, profan dan konkrit. Apapun namanya, Islam Nusantara, Islam Indonesia bahkan tanpa nama sekalipun, setiap manusia sebagai makhluk relatif melakukannya secara sadar maupun tidak. Menolak dimensi lokal, partikular dan konkrit Islam dengan dalih menjaga universalitas dan kesakralannya adalah salah paham yang bersumber dari kegagalan memahami relasi niscaya kemutlakan dan kenisbian.

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *