Home / Universalia / Terbentuknya Negara dari Kontrak Sosial

Terbentuknya Negara dari Kontrak Sosial

Walaupun setiap individu mempunyai naluri yang sama dari Tuhan untuk mengatur kehidupannya. Namun dengan naluri tersebut tidak selamanya dijalankan dengan efektif dan efisien dalam keadaan yang mungkin berubah. Dalam state of nature ini tentunya tidak selamanya individu-individu bisa mengatur dan menjaga hak-hak dasarnya dengan baik. Hak-hak dasar individu, khususnya dalam hal kepemilikan, orang bebas mengelola tanah miliknya dan bebas mengelola tanah kosong berdasarkan kemampuan masing-masing. Akibat dari kemampuan yang berbeda-beda mestinya menghasilkan kepemilikan tidak merata dan tidak seimbang. Siapa yang lebih mampu mengembangkan potensi untuk mengelola barang kekayaan tersebut, maka dia berhak amemiliki dan menikmati hasilnya.

Di sini individu tidak mungkin terlepas dari konflik dan persaingan dalam hal kemampuan mengekploitasi tanah (property). Oleh karena itu, agar tidak terjadi perebutan ataupun kesalah pahaman, setiap individu berkumpul bersama dalam sebuah komunitas. Dalam komunitas itu antar individu saling besepakat untuk membentuk satu kesatuan politik yaitu negara. Kesepakatan inilah yang disebut kontrak sosial (social contract) oleh Locke. Di sini semua individu berangkat bukan dari kepentingan pribadi ataupun ketakutan melainkan dari kepentingan bersama menuju sebuah keamanan dan ketentraman. Kontrak sosial ini membuat semua individu secara sukarela menyerahkan sebagian hak-hak mereka di bawah naungan negara demi kepentingan bersama.

Hak-hak yang dimaksud bukanlah hak-hak dasar alamiah, tapi hak-hak yang berkaitan dengan sosial. Sebagian hak itu adalah pertama, hak menjaga dan melindungi masing-masing hak milik individu. Jika hak tersebut dijalankan tanpa naungan negara, individu dengan kemampuannya tidak akan selamanya dapat menjaga dan melindungi sendiri. Karena mengingat barang miliknya mempunyai potensi untuk terus bertambah. Maka tidak menafikan timbulnya kejahatan. Yang kedua, hak menghukum orang-orang yang menyimpang dan menyalahi aturan alamiah. Dengan adanya hukum alamiah yang dimiliki masing-masing individu itu belum cukup, karena itu lama-lama akan memicu adanya tindakan anarki. hak-hak itulah yang dimaksud kurang efisien jika dijalankan tanpa adanya sebuah lembaga tertinggi.

Melihat penjelasan di atas, dapat dikatakan tujuan negara merupakan instrumen untuk melindungi hak milik pribadi. Bukan untuk menciptakan kesamaan, atau untuk mengontrol pertumbuhan milik pribadi yang tidak seimbang, melainkan justru untuk tetap mejamin keutuhan milik pribadi yang semakin berbeda-beda besarnya . hal tersebut makin jelas jika dilihat dari kutipan dalam Schmid, 1965-202, yaitu:
“Negara juga diciptakan karena suatu perjanjian kemasyarakatan antara rakyat. Tujuannya ialah melindungi hak milik, hidup dan kebebasan, baik terhadap bahaya-bahaya dari dalam maupun bahaya-bahaya dari luar. Orang memberikan hak-hak alamiah kepada masyarakat tetapi tidak semuanya”.
Jadi negara sebagai lembaga tertinggi terbentuk dari perjanjian sosial antar individu, dimana negara hanya menjalankan hak-hak individu yang diembannya. Ketika negara terbentuk, tentulah ditetapkan aturan-aturan di dalamnya. Aturann-aturan itu berasal dari rakyat dan untuk rakyat pula. Artinya, negara hanya boleh menjalankan apa-apa berdasarkan kehendak warga negara yang membentuknya. Berarti setiap individu harus tunduk pada hak-haknya sendiri yang sudah dipercayakan pada negara.
Negara menurut Locke berhak dan berwenang menjalankan amanah rakyat. Setelah negara mendapat legitimasi dari warganya, lantas dia tidak harus sewenang-wenang berkuasa pada rakyat. Tapi negara hanya harus menjalankan sejauh berdasarkan persetujuan rakyat. Negara bergerak pada satu tujuan dari kehendak rakyat. Ini menunjukkan negara tidak mempunyai kuasa penuh atas rakyat, tapi kekuasaannya terbatas. Maksudnya, negara dibentuk dan ditentukan aturan-aturan di dalamnya oleh rakyat tapi rakyat hanya memberikan hak-haknya yang tidak esensial. Negara Dengan begitu, hak-hak mendasar setiap individu tetap terjaga kebebasannya.

Jika kita bandingkan dengan konsep terbentuknya negara yang digagas oleh Hobbes, maka semakin jelaslah perbedaan pemikiran antara keduanya. Hobbes mengatakan negara terbentuk dari sebuh kesepakatan individu yang dilatar belakangi oleh rasa takut kehilangan barang kekayaan mereka. rasa takut pada perang yang mungkin terjadi seperti zaman dulu. Samapi di sini gagasan Hobbes sudah memperlihatkan perbedaan sebuah awal tujuan terbentuknya negara. Rakyat terpaksa mmemberikan sebagian barang kekayaan mereka pada pemerintah, agar hak miliknya tetap dilindungi. Perbedaan yang paling ekstrim lagi, hobbes beranggapan negara nantinya tidak bertanggung jawab pada masyarakatnya tapi hanya bertanggung jawab pada Tuhan yang telah mengangkatnya

Oleh: Mohammad Anwar

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *