Home / Featured / Tuhan Dan Penuhanan

Tuhan Dan Penuhanan

Bagi muslim kalimat laa ilaaha illa llah sungguh menjadi kalimat utama dalam hidupnya. Sebenarnya kalimat itu memiliki nilai filosofi yang sangat kentara, yaitu tentang dualitas, dan dalam hal ini sebenarnya semisal dengan apa yang menjadi pendekatan filosofis orang orang Buddha dan Taois, yaitu tentang “Ada dan Tiada”.
Mungkin sebagian muslim akan apriori negatif dengan hal seperti ini dikarenkan kalimat itu disamakan dengan teori teori orang kafir dan musyrik. Oke, baiklah, saya menghargai bentuk bentuk ekspresi keyakinan orang orang yang beragam. Akan tetapi saya tekankan bila ini memang bahasan filsafat, bukan bahasan Islam syari’ah.
Antara ada dan tiada. Ini sungguh menjadi terasa ganjil, ada namun tiada, tiada namun ada. Apakah Tuhan itu seperti angin yang ada tetapi tak terlihat?. Mungkin pertanyaan seperti ini menjadi keumuman manusia di abad lalu yang cara pengungkapan mereka metaforis elemen alam.
Teori
Bisa dikatakan dengan sederhana bila teori bisa muncul dari dua sisi berbeda. Pertama, teori yang muncul karena ada upaya untuk membahasakan atau merumuskan realita yang ada. Yang kedua adalah teori untuk membangun kekaryaan, dimana hal itu tidak tersedia secara langsung oleh alam, tetapi manusia dengan fitrah akal dan intelektualnya membangun peradaban yang khas. Contoh sederhana untuk hal ini adalah para ilmuan menteorikan rumus pembuatan antibiotika jenis baru, karena antibiotika lama sudah mulai tidak mempan dimana virus dan bakteri sudah kebal dengan antibiotika jenis lama.
Tuhan dan Kosmologi
Kata Tuhan sebenarnya selalu beriringan dengan nilai kemanusiaan itu sendiri. Ini disebabkan bila manusia memang sebagai obyek bahasan ketika kita hidup di dimensi manusia ini dengan kemanusiaan kita. Secara fitrah kita meyakini betul bila alam ini ada yang menciptakan, dengan argumen argumen nalar dan nurani akan kita dapati hal demikian meski apa, bagaimana, siapakah Tuhan itu seringkali manusia bertengkar dalam perdebatan tak kunjung selesai sejak zaman azali hingga saat ini. Kita juga menyadari kelemahan dengan menggunakan tubuh fisik yang rentan ini. Karena itulah manusia selalu mencari dan mencari dukungan bagi eksistensinya. Dan itulah Tuhan.
Tragisnya, hingga saat ini Tuhan selalu dalam teori-teori, dan doktrin karangan manusia-manusia tertentu, dan orang awam terpaksa mengikuti gagasan-gagasan itu meski diantara gagasan itu sendiri penuh pertentangan. Karena inilah gagasan dan penafsiran tentang Tuhan yang beragam menjadi muncul. Dan pertentangan tentang Tuhan semakin tajam dan pelik di jagad kemanusiaan.
Kemultidimensian dalam alam diakui manusia sebagaimana manusia mempercayai ada ruang-ruang dalam organ tubuhnya, seperti di dalam perut ada organ-organ, dan dalam organ organ tadi juga memiliki ruang-ruang, dan di dalam ruang ruang itu juga ada ruang-ruang lagi, demikian sebagai ilustrasi nyata bila mutidimesi itu ada. Dan manusia sering mempertanyakan tentang mutidimensi yang diluar dirinya, sehingga dari semangat ini manusia kini bisa melihat apa yang ada diluar angkasa, diluar birunya langit bumi disiang hari, dan mendapati pengetahuan bintang gemintang dimalam hari yang berkerlip indah bagai batuan mulai yang sangat mahal harganya.
Keyakinan adanya multidimensi meniscayakan penteorian yang beragam menurut terminologi masing-masing pendekatan ilmu yang digunakan. Dalam hal ini saya maksudkan juga bila dimensi adakalanya tidak jauh dari kita, hanya saja citra kesadaran yang kita gunakan yang mana. Semisal dalam hidup sehari hari, kita mendapati dimensi sosial, dimensi finansial, dimensi politik, dimensi budaya, dimensi kesehatan, dimensi kejiwaan, dimensi keyakinan, dsb. Ada banyak dimensi, setidaknya memang menjadi kenyataan bila dimensi diluar kita dan dimensi didalam diri kita yang semua itu bagian dari alam.
Bila di ilustrasikan alam semesta bagai satu bola raksasa, dan dalam bola itu ada bola bola lebih kecil dimana didalamnya ada bola lagi begitu seterusnya. Dan manusia menempati secara faktual satu dimensi, yaitu dimensi kemanusiaan. Tetapi manusia dengan bekal fitrah akal bisa mencoba menguraikan dimensi yang tak terjangaku olehnya, seperti ilmu matematika yang seolah-olah hampa tak bermakna tetapi merupakan kebenaran sunatullah dimana dengan rumusan rumusannya bisa dipahami meski tak terlibat secara langsung. Dan dari sinilah muncul estimasi ataupun penafsiran akan suatu eksistensi atau realita.
Manusia menafsirkan Tuhan atau manusia membuat Tuhan
Mungkin judul sub bahasan diatas akan membuat tidak nyaman bagi insan-insan religius dikarenakan cara memandang Tuhan yang tidak boleh di analisa, cukup diyakini saja tak boleh dipertanyakan.
Akan tetapi kita manusia yang selalu berkembang, tidak pernah akan puas dengan berbagai teori yang terkadang tidak ada realitanya secara faktual. Terlebih memang dalam kehidupan ini ada yang disebut dengan kepalsuan. Maka manusia dijagad kemanusiaannya akan melakukan validasi teori teori mendasar tentang kehidupan ini, termasuk ide-ide tentang meyakini keberadaan Tuhan.
Antara ada dan tiada Tuhan dalam realita kosmos ini sebenarnya bukan hanya ada dalam Islam, akan tetapi umat manusia kuno juga sudah terobsesi dengan hal itu seperti dalam kebudayaan Buddha dan Taois. Baiklah, kita sedang tidak membahasan mereka, kita membahas nilai Tuhan dari sisi antropologi.
Bila ditanya :”Apa pentingnya membahas Tuhan dari sisi kemanusiaan (antropologi)?”, saya menjawab :”Justeru itu hal penting yang tak boleh ditinggalkan ketika kita tenggelam dalam nilai-nilai religius agar memperoleh harmoni. Sebab kita adalah manusia, tentu yang kita mengerti secara totalitas adalah kemanusiaan. Meski ada input dari luar seperti nilai-nilai Tuhani akan tetapi kita tidak tau secara total bagaimana Tuhan, apa yang ada dalam benak-Nya, apa yang menjadi keinginan pribadi-Nya, apa yang Dia rasakan berkenaan dengan diri kita. Karena itulah kita hanya bisa mencapai Dia sebatas kemampuan kemanusiaan kita. Sebagai analoginya adalah demikian, kita bisa melatih burung beo untuk mengucap kalimat-kalimat kita yang manusia ini, akan tetapi burung beo tidak mengetahui makna pelavalan yang dia lakukan, dan dia hanya bisa mengucap saja. Jadi membahas Tuhan dari sisi antropologis akan semakin menambah kerendah-hatian kita sebagai makhluk, betapa ada sekat sekat antara makhluk dan khalik yang tidak bisa dilampaui, akan tetapi masih bisa terhubung dengan akhlak, dan tentu hal itu selaras dengan nilai ajaran syariah agama. Disamping itu, memahami Tuhan secara antropologi akan bisa membantu mengungkap sejarah dan peradaban yang terbentuk, dan juga bisa membantu kontrol atas pengembangan ide-ide dan pemikiran dimana selama ini menjadi komuditas orang orang yang menghendaki kekuasaan dan tindak pembodohan atas umat manusia. Demikanlah jawaban saya”
Kembali pada bahasan. Dalam sejarah kita sudah mengenal aneka teologi, baik animisme-dinamisme dimana berintikan penuhanan alam atau mekanismenya, kemudian politeisme yaitu pemahaman Tuhan ganda, baik yang sudah menyakut sisi supernatural ataupun sistem politik. Dan yang terakhir adalah monoteisme, yaitu Tuhan Tunggal yang dipercaya dalam tradisi Yahudi, Nashrani, dan Islam, dan sangat tidak menutup kemungkinan ada tradisi monoteistik selain yang dikenal umum ini.
Animisme Dinamisme
Dari tiga macam teori penuhanan di atas bila kita teliti ternyata juga berkaitan dengan konteks waktu. Dengan temuan arkeologi menunjukkan semakin purba titimangsa suatu temuan arkeologi akan menunjukkan pada kebudayaan animisme-dinamisme, dimana kebudayaan ini menunjukkan pentingnya harmoni antara manusia dengan alam. Seperti dalam kebudayaan Wicca misalnya. Tetapi kebudayaan ini akan dianggap negatif oleh kita yang hidup dalam nilai ketuhanan monoteistik
Politeisme
Politeisme adalah maujudnya karakter penuhanan menurut sisi kebutuhan manusia. Karena inilah ada banyak Tuhan atau mungkin disebut Dewa yang mewakili kebutuhan manusia, ada dewa malam, dewa makan, dewa anak kecil, dewa bertani, dewa pengetahuan, dewa penyembuhan, dewa perang, dewa welas asih, dewa uang, dst. Dalam penelitian sains ada banyak dewa, hingga ribuan dewa atau Tuhan yang sudah dikenal dalam kebudayaan diseluruh dunia ini. Sebab Tuhan atau dewa dewa itu tidaklah sama dalam setiap kebudayaan. Politeisme terkadang bukanlah hal supernatural, akan tetapi sepenuhnya politik, seperti penuhanan Fir’aun atas dirinya dimana tentu hal kekuasaan dan politik sebagai modal bagi dirinya untuk mempertuhankan diri. Dan kebudayaan bercorak seperti ini sangat dimungkinkan tidak hanya di Mesir saja.
Monoteisme
Dalam Islam biasa disebut dengan Tauhid. Untuk detailnya saya tidak membahas disini. Monoteisme dipercaya sebagai teori final dari pemahaman tentang Tuhan dalam scene sejarah dan peradaban hingga saat ini.
Dalam kenyataannya, praktik monoteisme sebenarnya tidaklah murni sebagai konsep baru soal Tuhan. Akan tetapi bekas bekas konsep Tuhan Politeisme dan Animisme-Dinamisme tetaplah ada. Contoh konkrit animisme-dinamisme dalam Islam yaitu adanya Ka’bah yang dipercaya sebagai Rumah Tuhan, padalah Tuhan Allah diyakini sebagai Tuhan semesta alam, tentu secara pemahaman yang bisa diterima adalah bila Tuhan pasti memiliki nilai yang lebih dari alam semesta ini, lebih besar, lebih indah, lebih mulya, dsb. Akan tetapi bagaimana Tuhan memiliki rumah dibumi?. Dari sini kita pahami adanya “Kehendak” atau “Jiwa” berkenaan dengan tempat atau benda tertentu dalam konteks penuhanan, dan hal demikian adalah karakter animisme-dinamisme.
Sedangkan politeisme dalam Islam muncul dengan adanya praktik praktik tawasul atau “Berperantaraan”. Tawasul sendiri sebenarnya tidak mengada ada sebagai doktrin dari ulama umat Islam, akan tetapi sebagai anjuran dari Tuhan Allah sendiri seperti dalam ayat ini
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَـٰهِدُواْ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ
” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya , dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan “. – Qs : Al Maidah : 35
Dalam terjemahan yang difokuskan untuk menghindari stigma pemahaman, maka penerjemah menerjemahkan kata ” ٱلۡوَسِيلَةَ ” dengan ‘jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya’. Tetapi washilah atau tawasul memang benar-benar menjadi tradisi sebagian besar umat Islam terutama para ahlus shufi, mereka bertawasul kepada Nabi Muhammad dengan bacaan shalawat atau membaca surah Al fatihah, demikian juga terhadap guru-guru pembimbing perjalanan spiritual mereka. Dan sebenarnya praktik pembacaan shalawat nabi adalah bentuk bentuk tawasul yang nyata dan sah diakui semua muslim, dan shalawat memiliki banyak versi berkaitan tentang hajat kebutuhan, ada sangat banyak bentuk shalawat yang ditemukan dalam literatur-literatur klasik keisalaman. Dan praktik tawasul shalawat ini sebenarnya juga berkaitan dengan kepercayaan akan adanya “Nur Muhammad” dimana hal itu adalah mistisisme.
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan takzim, dan dengan menggunakan ungkapan kebahasaan secara teknis, saya katakan bila sebenarnya tawasul sangat menyerupai praktik politeisme, atau sebenarnya animisme-dinamisme pula.
Disini saya mencukupkan diri dengan yang dari kebudayaan Islam dan tidak menyentuh agama lain semisal Nashrani, Yahudi, dll, dikarenakan banyak orang mempercayai bila Islam adalah monoteisme resmi terakhir, dan untuk tidak memperpanjang lebar bahasan sehingga memudar apa yang menjadi inti bahasan, yaitu memandang Tuhan dari sisi antropologi. Sedangkan ayat ayat Al Qur’an yang menujukkan tentang tawasul juga banyak dan kita cukupkan dengan yang di atas, karena sudah mewakili maksud dengan jelas.
Nah, dari maksud bahasan paragraf-paragraf diatas mulai ada ketesingkapan bila soal Tuhan adalah berkenaan dengan dialog nilai kemanusiaan itu sendiri.
Pagan
Pagan atau keberhalaan, dalam Islam biasa disebut thaghut. Tetapi penafsiran modern mengarahkan pemahaman thaghut pada bentuk bentuk sistem yang bertolak belakang dengan nilai nilai yang diajarkan oleh Islam, seperti sistem politik, moneter, teknologi, dsb, dimana semua itu mempunyai karakteristik “Kebaharuan”
Pagan atau thaghut mulanya adalah pengertian tentang pemujaan berhala, tentu hal ini sebagai manifestai politeisme yang juga sebagai persambungan dari animisme-dinamisme. Akan tetapi pemahaman ini juga terbaharui sehingga hal hal diluar cakupan kaidah ajaran Islam dianggap keberhalaan atau thaghut juga, seperti ideologi demokrasi yang juga diberi label thaghut oleh sebagian umat Islam. Demikian juga kapitalisme dimana umat Islam yang paling banyak di rugikan sehingga kapitalisme juga diberi labet thaghut
Dari pemahaman di atas menjadi lebih jelas bila ada dialektik penteorian Tuhan sehingga peristilahan juga ada perubahan perubahan. Demikian pula dengan gagasan gagasan tentang Tuhan tentu juga mengalami pergeseran. Secara sindiran sarkasme saya katakan bila “Tuhan juga berevolusi”, sebab ada kenyataan menujukkan hal itu.
Stigma dalam beragama dan bertuhan
Agama. Ya, banyak orang sensitif bila disebutkan kata yang satu ini. Agama seringkali dianggap segala-galanya dalam hidup, dan sekaligus orang lain harus mendukung gagasanya tentang agama dan Tuhan seperti obsesi yang ada dalam dirinya.
Dari pembahasan di atas sebelumnya kita sudah mulai mengetahui bila Tuhan pada satu sisi nilai kemanusiaan adalah bentuk bentuk dialektika dalam jagad kemanusiaan itu sendiri. Maka obsesi bila agama adalah sebagai segala-galanya dalam kehidupan tentu hal seperti itu kuranglah tepat, sebab, dia hanya hanyut mengikuti begitu saja memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Padahal kita manusia sebagai makhluk khusus dengan karunia akal dan hati harus progresif dalam kebudayaan dan peradaban, sehingga seminimal mungkin nilai-nilai kepalsuan dihindari. Untuk menemukan nilai asli (esoteris) harus mau melakukan kajian mendalam, bukan hanya mengikuti trend gagasan-gagasan saja, terlebih bila gagasan gagasan itu buahnya terbukti sebagai konflik dan chaos
Sering saya katakan bila agama bukanlah segala-galanya, akan tetapi agama adalah salah satu realita hidup. Hal ini dimulai dari pemahaman bila semua agama berintikan moral. Akan tetapi kita tidak mengalami dimensi moral saja, dan hal ini dalam keimanan Islam seperti apa yang disebut sebagai takdir, yaitu tertempatkannya suatu individu pada suatu posisi dalam kehidupan ini dimana dia terkait banyak realita atau kungkungan rumusan yang mengait keberadaan dirinya. Bisa aja hal itu berkenaan dengan kondisi kejiwaan, kondisi kesehatan, kondisi finansial, kondisi sosial, kondisi astrologi (kosmologi), dsb, sehingga mentaut dirinya dan menempatkan dia pada satu keadaan dalam hidup ini.
Banyak orang bertanya :”Apa itu agama”, selama ini yang banyak saya ketahui adalah definisi dari wilayah syari’ah Islam. Ya, karena syari’ah Islam sedang menjadi budaya pop pemikiran akhir akhir ini sehingga yang dikenal masyarakat luas tentang agama (Islam) pasti di identikan dengan syari’ah. Saya yang mendukung pemahaman shufi dan filsafat mempercayai bila agama adalah af’al Tuhan, agama adalah kekehendakan-Nya, yang dengan itu Dia berkendak untuk di taati. Akan tetapi bila Tuhan dianggap sebagai suatu realita, padahal realita bukan hanya kekehendakan saja, maka realita juga meniscayakan nama, sifat, dan juga zat (wujud) disamping kekehendakan atau af’al yang sudah kita singgung tadi.
Bila dalam tauhid Allah dianggap akan selalu punya nilai lebih dari alam semesta ini, tentu keberadaan Allah tidak hanya dalam agama saja, terlebih dalam batasan teoritis doktrin-doktrin tertentu.
Pemahaman yang saya sampaikan ini memang cenderung pada Deisme, akan tetapi saya memulai dari tauhid dalam terminologi “Keberadaan” dimana suatu keberadaan memiliki manifestasi nama – sifat – af’al – zat, dan itu juga bisa digunakan dalam memahami Tuhan, dimana nama Tuhan adalah Allah, sedangkan sifat-Nya dijabarkan dalam Allah, Wujud, Qidam, Baqa, dst seperti dalam teologi Asy’ariyah sebagai doktrin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Sedangkan af’al-Nya adalah agama dengan segala elemennya dimana Allah berkehendak untuk ditaati. Sedangkan zat-Nya multiabstrak, tidak dapat dipahami akal.
Maka sekarang saatnya saya masuk pada inti bahasan tulisan ini dengan judul di atas ” Tuhan menteorikan diri-Nya sendiri “. Dan hal ini berangkat dari pemahaman filsafat eksistensi dimana Tuhan juga berupa eksistensi meski zat-Nya multiabstrak tak bisa dimengerti oleh akal.
Dalam creedo orang orang Islam yang sekaligus sumber teologi mereka yaitu kalimat laa ilaaha illa llah. Kalimat itu mengandung nilai dualitas meski satu makna yang sama. Akan tetapi masing masing sisi memiliki nilai benar pada dimensi yang sesuai. Kalimat itu biasa diterjemah dengan “Tidak ada Tuhan selain Allah” dengan tulisan aslinya لَا إِلٰهَ إِلَّا الله dimana kata إِلٰهَ dan الله memiliki pengertian yang sama yaitu Tuhan. Tuhan seringkali disebut dengan menggunakan nama-Nya yaitu Allah. Secara maknawi bisa dikatakan Tidak ada Tuhan selain Tuhan.
Dalam mistisisme tasawuf dan tauhid kalimat itu biasa disebut juga dengan nafi-isbat, yaitu positif-negatif. Ini adalah pemahaman filosofis yang sangat kentara, yaitu tentang ada dan tiada. Secara kenyataan bisa dikatakan bila Tuhan tidak ada, sebab memang manusia tidak mendapati bukti faktual secara zahiriyah keberadan-Nya, dan ini adalah benar secara kebahasaan yang terkait dengan realita bila Tuhan tak terlihat secara zahir. Dan pernyataan ini ekuivalen dengan laa ilaha (tidak ada Tuhan) dalam kalimat tahlil itu.
Pemahaman ketiadaan Tuhan inilah membuahkan ide ide filsafat zahiriyah yang orang orang religius mengkatagorikan sebagai atheisme, kafir, musuh Tuhan, dsb. Diantara buah dari filsafat ini membuahkan obyektifitas sains hingga saat ini yang menolak hal hal supernatural yang tidak ada faktual di dalamnya. Hanya saja Tuhan dianggap sebagai pengisi celah kekosongan dari ketidakdiketahuaian.
Sedangkan penggalan kalimat tahlil selanjutnya adalah illa laah (kecuali Tuhan), artinya nilai kekhususan, aktual, nyata, riil, dimana merujuk pada “Ada”-Nya. Tetapi hingga zaman ini keberadaan Tuhan masih selalu berputar putar pada hal teoritis, dimana hal itu tentu menurut penafsiran, dan penafsiran muncul menurut kondisional yang ada sebagai respon.
Seandainyapun ada orang orang yang menyatakan menemui Tuhan secara pengalaman kesadaran tentu akan di ingkari, dan dianggap berbahaya oleh sistem masyarakat. Hal ini belum berubah hingga sekarang sejak zaman dahulu kala. Artinya masih ada hal yang tetap stagnan soal pemahaman tentang Tuhan dalam sistem kebudayaan yang berlaku. Sebenarnya hal demikian tidak sepenuhnya salah, sebab, masyarakat mempunyai batasan batasan tertentu yang baku, dan itu harus diakui bersama dibawah kendali politik yang disepakati. Sedangkan setiap individu manusia sangat memungkinkan memiliki nilai lebih diatas rata rata dalam sistem baku yang dipakai itu. Seperti kisah Syaikh Siti Jenar, Mansyur Al Hallaj, Suhrawardi Maqtul, Bayazid Al Busthami, Yesus Kristus, Siddharta Gautama, dll dari para suci dan para Utusan Tuhan, mereka adalah orang orang yang berbenturan dengan sistem yang sedang dipakai dan disepakati.
Jadi, hingga saat ini soal Tuhan selalu masih dalam kondisi pembahasan hal hal pelik, bahkan cenderung menimbulkan pertikaian dalam jagad kemanusiaan itu sendiri.
Dari teori ketiadaan Tuhan yang memunculkan gerakan rasionalitas hal ini ditentang oleh teori teori keberadaan Tuhan abstrak. Tetapi sayangnya teori keberadaan Tuhan abstrak tidak bisa membuktikan secara metodologi tertentu sehingga bisa dipelajari lebih seksama. Bahkan tak jarang teori keberadaan Tuhan abstrak ini menimbuklan manipulasi manipulasi yang hampir semua mengarah pada tujuan politik untuk mencengkeram dunia demi keuntungan keuntungan duniawi, baik pada skala global atau skala dibawahnya, yaitu kepalsuan kepalsuan mengatasnamakan Allah dan janji janji kosong seputar harapan dan angan-angan manusia.
Sangking peliknya hal Tuhan ini hingga sebenarnya bisa dikatakan secara antropologis bila manusia sendirilah yang menciptakan Tuhan. Tentu saja definisi ini berdasar sejarah yang terbentuk sesudah ribuan tahun manusia mendiami planet bumi ini dengan banyak peristiwa sejarah pemikiran sehingga yang muncul adalah tafsiran-tafsiran Tuhan yang sebenarnya dari sudut pandang antroplogis belaka, bukan sebagai eksistensi individu “Yang Hidup” seperti dalam pekabaran wahyu yang diterima para utusan-Nya.
Karena inilah secara dialektika bisa memunculkan pernyataan bila :”Tuhan saya bukanlah Tuhan anda”, tentu ini benar secara doktriner, akan tetapi sangat salah bila dalam pemahaman kosmologis bila diyakini bahwa Tuhan adalah Tunggal, dan Dia pencipta segala sesuatu dan tak terkungkung ruang dan waktu. Jadi, Tuhan anda pasti Tuhan saya juga, termasuk Tuhannya batu dan Tuhannya galaksi Andromeda, dsb.
Tetapi kenapa kenyataannya manusia bertengkar soal Tuhan?. Tentu dikarenakan teologi yang digunakan berkarakter egosentris sehingga yang selain diri dianggap obyek yang sah untuk dijadikan pemenuhan eksistensi, hingga bentuk kezaliman tak jarang juga bisa terjadi karena pandangan ini.
Kekeliruan Filosofis
Mungkin bisa saja ada yang memberi pernyataan :”Kalau Tuhan juga menyatakan kedualitasan, maka boleh seseorang melakukan tidak penafian antara satu dengan yang lain”. Maka saya menjawab :”Bagaimana bila anda pada pihak yang kalah?”, tentu hal demikian tidak mau diterima.
Mungkin ada lagi yang bertanya :”Bagaimana tentang amar ma’ruf nahi mungkar, bukankah itu hal penafian juga?”, maka saya menjawab :”Hal itu adalah bahasan berbeda. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah konsep moral, dan moral sebenarnya berintikan harmoni dalam kosmologi. Kemungkaran dalam suatu sistem masyarakat artinya adalah disharmoni, maka sistem itu perlu untuk di refresh kembali, sedangkan bentuk bentuk kejadian amar ma’ruf nahi munkar adalah sensasi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat”
Pada prinsip dasarnya penafian yang sebenar-benarnya itu tidak ada. Bila secara teologis bisa dikatakan bila penafian itu ada, tentu Tuhan tidak perlu membuat penyataan “Tidak ada Tuhan selain Allah”, atau “Tidak Ada Tuhan selain Aku” , sebab penggalan kata “Tidak ada Tuhan” itu menunjukkan suatu realita juga. Toh dengan ketidakmelihatan kita pada zat Tuhan, Tuhan juga ada dan telah menciptakan diri kita ke dunia ini. Demikian dalam persepektif kemakhlukan, selalu ada dualiats positif negatif, laki perempuan, siang malam, dst yang menunjukkan bila dualitas selalu ada. Sedangkan dimensi ketunggalan meski ada namun tak terjadi di alam kita ini. Contohnya demikian, bila dimensi ketunggalan itu ada, tentu kata Allah itu tidak mampu ditampung dalam kertas atau media lain, sebab dia adalah Tuhan yang serba maha, ketunggalan-Nya maujud pada nama-sifat-af’al-zat-Nya, toh kita juga bisa menulis dan mengucap ‘Allah’ bahkan terkadang untuk bersumpah palsu menggunakan nama-Nya sekalipun.
Tuhan sendiri yang akan menjawab
Manusia memang akan selalu dalam kondisi jahil tentang Tuhan yang hakiki, akan tetapi dengan demikian jangan sampai menjadi terputusnya pemahaman dan relasi antara makhluk dan khaliknya. Meski pemahaman Tuhan sangat terbatas maka bukan menjadi alasan bila kezaliman dianggap sah, terlebih kezaliman mengatasnamakan Tuhan bersama teori teori yang dikembangkan.
Ketika Tuhan dalam penteorian, maka artinya Tuhan adalah ciptaan manusia, atau setidaknya tafsiran manusia. Bila soal Tuhan demikian, tentu soal agama dibawah soal Tuhan, sebab agama selalu dibangun dari teologi yang dikembangkan. Dari sinilah saya katakan seperti di paragraf awal bila agama bukan segala galanya, karena agama memang buatan manusia dan itu bisa saja berubah ubah, terlebih akhir akhir ini ada banyak gerakan konversi agama Islam menjadi gerakan yang sepenuhnya politik. .
Pemahaman Tuhan secara pengalaman ruhani mungkin ada yang memilikinya, akan tetapi tentu tidak di ekspos terbuka sebab kondisi gejala antropologis masyarakat hingga zaman ini tidaklah memungkinkan untuk itu, dikarenakan faktor demi keselamatan yang punya pengalaman, dan menjaga sisi establish religion itu sendiri sebagai lembaga umum formal keagamaan dibawah kendali politik yang berkuasa. Maka kisah sejarah masa lalu hendaknya digunakan sebagai pelajaran. Tetapi setidaknya sedikit dari porsi itu harus selalu dibuka agar menjadi wacana kebudayaan dan peradaban, dan sebagai strater untuk itu sehingga kebudayaan dan peradaban nilainya menjadi progresif.
Bila secara kosmologi Islam diyakini bahwa kehidupan ini bagai teka teki sejak zaman azali sehingga para malaikat memberi jawaban dengan kepatuhan mereka, setan menjadi durhaka, dan manusia menjawab dengan pengetahuannya meski akhirnya tergelincir sehingga membentuk teka teki yang Tuhan sendiri secara sindiran telah sering menyatakan dalam Al Qur’an :”inni a’lamu maa laa ta’lamuun”, maka sebaiknya kita mempercayakan agar Tuhan sendirilah yang menjawab teka teki-Nya itu, sebab, suatu teka-teki tentu semua jawaban hanyalah kesalahan dihadapan pemilik teka teki, sedang jawaban yang benar ada pada-Nya.
Bila Tuhan diyakini sebagai pribadi dan hidup, tentu interpretasi tentang-Nya tidaklah akurat, sebab, bagaimana bisa akurat ketika interpretasi kita atas orang lain saja seringkali meleset.
Jadi untuk bertuhan yang baik tentu tetaplah menjalani nilai nilai moralitas yang baik, sedangkan bersamaan dengan itu kita berserah diri akan hasilnya, sebab, obyek Tuhan memang sangat pelik meski bukti kosmologis memang ada, dan berserah diri itulah nilai nilai esoteris, dan selaras dengan Islam secara maknawi.
Maka bisa dikatakan, ketika dulu dizaman azali Tuhan memiliki pertanyaan pertanyaan tentang realita kehidupan, kemudian Dia sendirilah yang menjawab, maka dia sedang menteorikan diri-Nya sendiri, kemudian manusia ikut menteorikan-Nya sekedar kemampuan manusia itu sendiri. Tuhan terlalu agung untuk masuk dalam akal manusia yang kemudian dari itu berbuah teori teori, dan jumlahnya sangat banyak. Maka sebaik-baik orang adalah yang tidak menganggap bila teorinya paling benar dan baik, sebab dihadapan Tuhan hal itu mungkin saja menggelikan dan konyol. Kebodohan dan kecerdasan memang ada dalam diri manusia, seandainya tidak bodoh tentu manusia tidak di dunia ini karena ketergelinciran. Tetapi semua itu sudah rancana-Nya. Tentu Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang dikarenakan kemuliaan-Nya

About adminislat1

Check Also

Jangan Menuntut Tuhanmu

Jangan menuntut Tuhan karena ditundanya permintan yang telah engkau minta kepada Alloh. Tetapi hendaknya engkau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *